Taman Nasional Gunung Gede Pangrango [National Park]

The Oldest Tropical Mountain Rain Forest of Java

Hasil Pencarian

Peran Jagawana di Pos Cibodas dalam Upaya Meningkatkan Kesadaran Pengunjung Wisata Alam (Pendakian) di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

21.10.14Hits 8 views|Database PenelitianCetak

Peneliti: Siregar, Sabrina Eva S

Topik : SDM

Tahun : 1999

No. Pustaka:

Abstrak
Keanekaragaman motivasi pengunjung dapat menimbulkan keanekaragaman tingkah laku yang dapat mengakibatkan pengrusakan. Pengrusakan yang di maksud adalah kegiatan pengunjung yang bersipat merusak dan mematikan, membuat tulisan pada fasilitas rekreasi dan membuang sampah tidak pada tempatnya. Pencemaran yang ada di kawasan rekreasi dan wisata menggambarakn tingkat kesadaran  dan tanggungjawab dari pemaki area rekreasi. Pokok masalah pada skripsi ini adalah ”apakah ada hubungan antara Jagawana sebagai komunikator dalam mensosialisasikan sanksi dengan tingkat pengetahuan pengunjung wisata alam mengenai sanksi atas perusakan kawasan wisata alam”. Teori yang digunakan adalah S-O-R (STIMULUS – ORGANISME – RESPON) dengan menggunakan metoda korelasi. Data diperoleh dengan wawancara, studi pustaka dan penyebaran kuisioner dengan pemilihan sampel secara purposive judgement sampling, memilih orang-orang tertentu yang dianggap mewakili populasi atau berdasarkan penelitian tertentu. Dari 157 responden yang mengisi kuisioner tentang kemampuan petugas dalam mensosialisasi sanksi diperoleh nilami skor tertnggi 89 ( skor 0-29 di kategorikan rendah, 30-59 kategori sedang; 60-89 kategori tertinggi), dan skor terendah 51. Dengan demikian, 42,28 % responden menyatakan bahwa kemampuan petugas mensosialisasikan sanksi yang berlaku di TNGP berada pada tingkat sedang. Dari uji korelasi diperoleh bahwa responden yang menyatakan peran petugas memberikan informasi tinggi, sedang dan rendah tidak berbedaa dengan rata-rata pengetahuan pengunjung tentang sanksi terhadap pelanggaraan yang ada di TNGP.

Taman Nasional Gede Pangrango Sebagai Kawasan Pelestarian Alam. Prosiding Pertemuan Panitia MAB Indonesia Dan Lokakarya Cagar Biosfer (Cisarua, 19-20 Nopember 2002)

21.10.14Hits 1 views|Database PenelitianCetak

Peneliti: Suktojo, Hartanjo W.

Topik : Flora

Tahun : 2004

No. Pustaka:

Abstrak
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) merupakan salah satu gugusan gunung berapi yang membetang dari Bukit Barisan di Pulau Sumatera Sampai ke pulau jawa. Puncak Gunung Gede dan Pangrango ditumbuhi oleh vegetasi khas yang didominasi oleh Cantigi gunung dan Edelweis (Anaphlisjavanicus) . TNGP memiliki potensi hidrologi kawasan yaitu merupakan hulu 3 DAS (DAS ciliwung,Das citarum, DAS Cimandiri). Dengan ketiga ekosistem utama (sub montana,montana, dan Sub alpin), kawasan ini memiliki kaya dengan beranekaragaman Flora dan fauna . panorama lam TNGP menyebabkan kawasan ini kaya dengan obyek wisata alam, dam menyebabkan hampir 60.000 orang berkunjung ke TNGP pertahunya. Dengan program bioregional yaitu program taman Nasional yang berwawasan luas dengan pelibatan-pelibatan wilayah-wilayah yang ada di sekitarnya , dengan Demikian Semua pihak yang berkepentingan disekitar TNGP dapat  mendukung program TNGP paling tidak dalam pengembangan suatu wilayah aspek-aspk konservasi dan lingkungan hidup selalu di perrhatikan. TNGP, Taman Nasional Gunung Halimun, dan Kompleks Gunung Salak yang terletak berdekatan, memungkinkan memiliki kesamaan kekayaan flora fauna, dan ketiga kawasan hutan ini penting sebagai sumber air bagi kabupaten sukabumi, bogor, lebak, serta DKI jakarta, menurut catatan ada 6 sungai besar berhulu di ketiga kawasan ini. Ketiga kawasan ini bila ditinjau dari segi ilmiah merupakan habitat satwa langka elang jawa. Oleh karena itu bila memungkinkan perlu dibangun suatu koridor (Hutan) yang secara fisik ada di lapangan untuk memudahkan pergerakan satwa. Beberapa program yang di kembangkan oleh TNGP  baerwawasan bioregional yaitu :
1.    Peningkatan Upaya Pengelolaan Kawasan
2.    peningkatan kemampuan Aparatus dan Evaluasi lapangan
3.    peningkatan peran(pemamfatan)
4.    Peningkatan kesejahteraan masyarakat
5.    Peningkatan apresiasi dan kepedulian masyarakat

Gangguan Satwa Liar Mamalia Besar dan Nilai Kerugianya di Daerah Penyangga Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Jawa Barat.

21.10.14Hits 3 views|Database PenelitianCetak

Peneliti: Suprapto

Topik : Flora

Tahun : 2000

No. Pustaka:

Abstrak
Penelitian ini diharapkan dapat mengetahui gangguan satwaliar terhadap kondisi fisik dan fsikologis penduduk di sekitar TNGP. Disamping itu juga ingin mengetahui gangguan satwaliar terhadap komoditas budidaya di sekitar taman nasional meliputi kerusakan taman budidaya, pemangsaan ternak dan ikan, serta nilai kerugiannya secara financial. Tujuan penenelitian ini secara umum adalah mengetahui nilai kerugian secara ekonomis terhadap kerusakan/pemangsaan komoditas budidaya yang di timbulkan oleh satwaliar TNGP di daerah penyangga dan secara khusus bertujuan mengetahui jenis satwa liar mamalia. mengetahui nilai kerugian secara ekonomis terhadap kerusakan/pemangsaan komoditas budidaya yang di timbulkan oleh satwaliar TNGP di daerah penyangga dan secara khusus bertujuan mengetahui jenis satwa liar mamalia. Besar penghuni taman nasional yang memasuki daerah penyangga, mengetahui keamanan gangguan fisik dan fsikologis penduduk akibat satwa liar yang keluar kawasan dan memasuki pemukiman dan sekitarnya, mengetahui besarnya kerusakan komoditas budidaya akibat gangguan satwa liar perkejadian gangguan dan waktu gangguan satwa liar dan gangguan satwa liar terhadap komoditas Budidaya. Data di analisis secara dekskriptif dengan tabulasi dan grafik, jenis satwa liar mamalia besar yang sering keluar dari kawasan TNGP adalah babi hutan (Sus scrofa), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), kijang (Muntiacus muntjak), macan tutul (Panthera pardus), musang (Paradoxurus hermaprodictus), dan sero berang-berang (aonyk cinerea). Keluarnya satwa liar di duga karena daerah jelajahnya telah berubah menjadi lahan budidaya dan  pemukiman di sekitar kawasan TNGP. Penilaian responden atas gangguan satwaliar secara umum yaitu 69.48 % (menggangu), 14.85 % (tidak mengganggu) dan 16.44 % (tidak tahu). Berdasarkan presentasi ini, menunjukan bahwa hadirnya satwaliar di sekitar pemukiman dapat mengganggu keamanan penduduk baik secara fisik maupun psikologis. Dampak fisik yang di maksud adalahterlukanya penduduk oleh serangan satwa liar. Dampak psikologis yang di maksud yaitu hilangnya rasa aman penduduk untuk menjalankan pekerjaan sehari-hari dan rasa resah/ takut yang penduduk alami jika melihat atau mendengar satwaliar tadi di daerah penyangga. Penilaian responden terhadap gangguan satwaliar secara lebih rinci berdasarkan jenis pertanyaan dan jenis satwaliar adalah satwaliar yang pernah melukai penduduk di sekitar TNGP yaitu babi hutan (5.06%), satwaliar yang menyebabkan penduduk menghentukan pekerjaannya sehari-hari bila melihat/mendengar satwaliar memasuki daerah penyangga adalah macan tutul (68.54%), sedangkan satwaliaryang menyebabkan penduduk merasa takut dan was-was bila satwaliar memasuki daerah penyangga TNGP adalah macan tutul (96.24%) dan monyet ekor panjang (44.60%). Selama penelitian, babi hutan merupakan satwaliar yang lebih banyak menimbulkan kerusakan komoditas pertanian seperti tanaman padi sawah, padi ladang, jagung, singkong dan pisang dengan nilai kerugian ± sebesar Rp. 15.863.192,-. Nilai kerugian terbesar berikutnya ditimbulkan oleh musang yang memangsa ikan sebesar Rp. 5.330.375,-. Nilai kerugian ekonomis yang berbeda-beda, disebabkan perbedaan frekuensi serangan satwa liar terhadap komoditas budidaya. Penyebab perbedaan nilai ekonomis lainnya adalah topografi tepi batas kawasan TNGP, penutupan vegetasi tepi batas TNGP, jarak jangkauan satwa liar (jarak kejadian), jumlah satwa liar setiap kejadian gangguan dan wakttu kejadian gangguan. Pengendalian gangguan satwa liar terhadap komoditas budidaya dapat dilakukan pihak pengelola TNGP dan penduduk di sekitarnya adalah pemagaran, saluran, parit dan selokan, zona penyangga, pola ganti rugi, penempatan lokasi tanam yang jauh dari hutan, pengubahan jenis-jenis komoditas yang ditanam yaitu jenis tanaman yang tidak disukai oleh satwa liar dan menjaga lahan garapan serta menghalau satwaliar ke dalam kawasan taman nasional menjelang musim panen.

Studi Prilaku Makan Owa Jawa (Hylobates moloch Audebert, 1789) di Sub Seksi Wilayah Konservasi Salabintana Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

20.10.14Hits 11 views|Database PenelitianCetak

Peneliti: Muhammad Syihabuddin

Topik : Fauna

Tahun : 2002

No. Pustaka:

Abstrak
Owa Jawa (Hylobates moloch Audebert, 1789) merupakan salah satu jenis primata endemik pulau jawa bagian barat yang populasinya saat ini semakin menurun. Penurunan populasi ini diduga karena perburuan liar, Fragmentasi habitat dan berkurangnya luasan habitat. Owa jawa di nyatakan sebagai hewan yang dilindungi berdasarkan Peraturan Perlindungan binatang liar tahun 1931 Nomor 266, SK mentan No. 54/KPTS/Um/1972 dan peraturan pemerintah No.7 tahun 1999.TNGP memiliki berbagai jenis satwa liar, diantaranya adalah Owa Jawa (hylobates moloch).  Akibat kelangkaan dan terbatasnya daerah penyebaran Owa tersebut, jenis ini telah ditetapkan sebagai salah satu jenis satwa yang dilindungi dan juga tercatat sebagai jenis satwa dengan kategori penting (Endangered) dalam Red Data Book yang dikeluarkan oleh IUCN tahun 1982. Secara umum owa termasuk omnivore, hanya sebagian kecil anggotanya memiliki diet twerbatas dan bahkan tidak ada  yang sangat terbatas seperti pada mamalia lainnya. Selain Owa, samua genus Hylobates adalah pemakan buah dan daun. Informasi tentang perilaku makan owa jawa perlu diketahui sehingga hali ini  merupakan salah satu dasar penting dalam pengelolaan populasi owa jawa, baik in-situ maupun ex-situ, karena sumber pakan dan perilaku makan dapat menetukan kesehatan dan kesejahteraan populasi owa jawa. Kegiatan utama yang dilakukan owa adalah bersuara, berpindah atau melakukan perjalanan, istirahat atau diam, makan dan minu. Kegiatan lainnya adalah bermain dan berkutu-kutuan. Aktivitas harian owa di mulai pukul 05.45-06.10 WIB, berakhir pada pukul 16.50-17.30 WIB. Jumlah total pengamatan waktu aktivitas harian adalah 62 jam dalam 7 kali pengamatan dengan rata-rata 8.5 jam per hari (8.5 ± 0.36). lama waktu tersebut dialokasikan  untuk bersuara selama 20 menit, berpindah selam 1 jam 45 menit, aktivitas istirahat atau diam selam 3 jam 15 menit, makan selama 4 jam 30 menit. Dalam melakukan aktivitas makannya, owa tidak mempunyai waktu yang khusus. Kapan pun ditemui di pohon pakan, disitulah melakukan aktivitas makan dimulai. Mulai pagi hari setelah bangun tidur sampai sesaat sebelum tidur di temui owa melakukan aktivitas makan. Kegiatan makan meningkat setelah matahari terbit dan cuaca muali terang, dimana aktivitas makan mulai meningkat pukul 08.00-09.00 dengan waktu yang di habiskan  di tiga lokasi yaitu  Blok Cimahi (40.2 menit), Blok Cimanaracun (39.2 menit), dan Blok Puspa (34.2 menit). Selanjutnya aktivitas makan menurun da meningkat lagi  pada pukul 15.00-16.00, hal ini ditandai dengan menetapnya owa  pada satu pohon yang menjadi sumber pakannya. Cara makan owa dilakukan sebagian besar dilakukan dengan tangan kiri. Perbedaan penggunaan tangan kanan dan kiri untuk aktivitas makan adalah 1:2. Pada jantan dewasa dan betina dewasa, tangan kiri sangat dominan dalam mengkonsumsi makanan, sedangkan untuk bayi penggunaan tangan untuk makan seimbang. Posisi makan owa jawa dapat di bagi dalam dua kelompok yaitu posisi duduk dan bergantung. Posisi makan bergantung lebih banyak dilakukan memegang cabang atau ranting, sedangkan tanga kiri berperan aktif untuk mencari. Memilih dan memasukan makananan ke mulut. Bagian-bagian pohon (batang, cabang, ranting dan ujung ranting) sangat berkaitan dengan aktivitas makan secara umum, yang memiliki letak dan posisi makan. Bagian ranting pohon yang paling banyak dipakai dalam aktivitas makan (48.7 %), sedangkan ujung pohon yang paling sedikit digunakan untuk aktivitas makan. Bagian ujung ranting pohon yang digunakan apabila aktivitas

Perilaku Kewaspadaan owa Jawa (Hyobates moloch Audebert 1798) di Kawasan Bodogol, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat.

20.10.14Hits 8 views|Database PenelitianCetak

Peneliti: Fitriah Usman

Topik : Fauna

Tahun : 2003

No. Pustaka:

Abtrak
Data yang diambil meliputi deteksi Owa Jawa terhadap pengamat, respon, penggunan selang ketinggian dan kanopipohon pada jalur aktivitas tinggi (JAT) dan jalur aktivitas rendah (JAR) dengan metode ad libitum dan scan sampling. Hasil penelitian menunjukan perbedaan deteksi dan respon Owa Jawa terhadap pengamat dimkedua jalur. Deteksi yang paling sering diperhatikan Owa Jawa pada JAT adalah deteksi Akhir (61%), sementara pada JAR adalah deteksi awal (80%). Respon Owa Jawa yang sering terlihat di JAT yaitu diam di tempat (62,35%). Sementara di JAR adalah respon melarikan diri tanpa bersuara (60,78%). Perbedaan tersebut di duga karena Owa Jawa di JAT telah terhabiutasi terhadap manusia. Penggunaan selang ketinggian pohon dan kanopi oleh owa jawa di keluar jalur tidak menunjukan perbedaan, yaitu 16-35 m (sedang) dengan kanopi yang paling sering di gunakan adalah kanopi tengah. Hasil tersebut menunjukan bahwa Owa Jawa pada kedua jalur belum menunjukan bahwa Owa Jawa pada kedua jalur belum menunjukan perubahan penggunaan selang ketinggian dan penggunaan kanopi pohon.

Survey Elang Jawa (Spizaitus bartelsi Etressmann, 1924) di TNGP. Laporan PKL.

20.10.14Hits 5 views|Database PenelitianCetak

Peneliti: Virmuda Berna

Topik : Fauna

Tahun : 1999

No. Pustaka:

Abstrak
Indonesia dikenal sebagai salah satu Negara yang memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia sehingga mendapat julukan “Mega diversity country”. Keanekaragaman  hayati di Indonesia antara lain mamalia (515  species), reftilia (600 species), burung (1519 species), amphibia (270 species), dan tumbuhan berbunga 10000 (species). Indonesia menempati urutan keempat dunia (17 %) setelah Columbia, Peru dan Brazilia dalam keanekaragaman burung. Burung juga dapat dijadikan indikator yang baik dalam menilai kualitas suatu tempat. Keanekaragaman burung menjadi parameter kualitas lingkungan. Elang Jawa (Spzaetus bartelsi), suatu ‘raptor’ hutan tropis Indonesia, mendapat pioritas perlindungan karena daerahnya sangat terbatas. Elang ini hany7a ada di Pulau Jawa atau di sebut endemic Pulau Jawa. Menurut daftar IUCN status burung ini adalah  GENTING, suatu status yang menunjukan jumlah populasi kurang dari 10.000 ekor dewasa (Anonymous, 1998) atau luas daerah kurang dari 5.000 km2 dan luas daerah yang ditempati kurang dari 500n km2. Sedangkan peluang punahnya di atas 20% dalam kurun waktu 20 tahun (Collar dan Rudyanto, 1995). Menurut Sozer dan Nijman pada penelitian terbaru menunjukan jumlah perkiraan burung ini 600 – 1.000 ekor (van Balen dkk. In.prep dalam anonymous, 1998). TNGP merupakan salahsatu tempat hidup Elang Jawa, diperkiraan di tempat ini terdapat 4-5 pasang (Sozer dan Nijman, 1995). Tetapi diyakini jumlahnya lebih besar dari perkiraan tersebut. Laporan pemantauan rutin dari petugas TNGP dari setiap wilayah masih kurang, sedangkan disisi lain wilayah TNGP semakin terjepit oleh berbagai infrastruktur dan aktivitas manusia, hal ini dapat memperburuk kondisi habitat yang ada. Dengan latar belakang tersebut perlindungan yang lebih serius terhadap Elang Jawa.