Taman Nasional Gunung Gede Pangrango [National Park]

The Oldest Tropical Mountain Rain Forest of Java

Hasil Pencarian

PROGRAM RESTORASI KAWASAN BALAI BESAR TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO LEUWEUNG HEJO MASYARAKAT NGEJO ENYA GE DIMUSIM HALODO

2.7.15Hits 69 views|ArtikelCetak

Benteng Hijau Berlapis

Kolaborasi BB TNGGP dengan CII, DAIKIN dan masyarakat di Resort PTN Nagrak dinilai berhasil dengan baik.  Konsep “green wall”  ini  mengusahakan dua benteng hijau, yaitu secara fisik lahan yang direstorasi menghijau, yang kedua adalah masyarakat yang berwawasan hijua menjadi benteng konservasi.  Kolaborasi yang dimulai sejak tahun 2008 ini, sudah berhasil merestorasi kawasan TNGGP seluas 300 ha dan membina masyarakat 12 kampung yang berbatasan dengan kawasan hutan. Selengkapnya…

DUA PASANG OWA JAWA DARI JGC-TNGGP DILEPASLIARKAN OLEH PRESIDEN JOKOWI

27.4.15Hits 873 views|BeritaCetak

aa

Bertepatan dengan perayaan Ulang Tahun Emas KTT-Asia Afrika di Bandung, pada tanggal 24 April 2015 Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya berkesempatan melakukan pelepasliaran owa jawa disaksikan beberapa delegasi peserta KTT di Bandung Jawa Barat. Momen pelepasliaran owa jawa menggambarkan semangat gotong royong negara-negara Asia Afrika untuk menjalankan pembangunan berkelanjutan, peningkatan kualitas hidup masyarakat, dan penghargaan terhadap keanekaragaman hayati sebagai penyokong kehidupan. Keberhasilan Indonesia melakukan konservasi owa jawa di pulau yang terpadat penduduknya di dunia, merupakan komitmen kuat Indonesia dalam menjalankan konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Selengkapnya…

Kunjungan Direktur KKH ke Cibodas

13.2.15Hits 773 views|KegiatanCetak

INOVASI…

Sepenggal kata diatas beberapa kali disampaikan oleh Ir. Bambang Dahono Adji, MM. Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Ditjen PHKA KemenLHK, pada pembinaan di Cibodas hari ini jumat 13 Pebruari 2015.
Bapak BDA (panggilan akrab direktur KKH.red),  menyampaikan pembinaannya dengan penuh keakraban dan memberikan spirit baru bagi Taman Nasional gunung Gede Pangrango (TNGGP). beliau didampingi Kepala Seksi Pengembangan Sumber Daya Genetik Dit. KKH Dr. U. Mamat Rahmat, S.Hut. MP.  Berkunjung di TNGGP. Selengkapnya…

Peran Jagawana di Pos Cibodas dalam Upaya Meningkatkan Kesadaran Pengunjung Wisata Alam (Pendakian) di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

21.10.14Hits 368 views|Database PenelitianCetak

Peneliti: Siregar, Sabrina Eva S

Topik : SDM

Tahun : 1999

No. Pustaka:

Abstrak
Keanekaragaman motivasi pengunjung dapat menimbulkan keanekaragaman tingkah laku yang dapat mengakibatkan pengrusakan. Pengrusakan yang di maksud adalah kegiatan pengunjung yang bersipat merusak dan mematikan, membuat tulisan pada fasilitas rekreasi dan membuang sampah tidak pada tempatnya. Pencemaran yang ada di kawasan rekreasi dan wisata menggambarakn tingkat kesadaran  dan tanggungjawab dari pemaki area rekreasi. Pokok masalah pada skripsi ini adalah ”apakah ada hubungan antara Jagawana sebagai komunikator dalam mensosialisasikan sanksi dengan tingkat pengetahuan pengunjung wisata alam mengenai sanksi atas perusakan kawasan wisata alam”. Teori yang digunakan adalah S-O-R (STIMULUS – ORGANISME – RESPON) dengan menggunakan metoda korelasi. Data diperoleh dengan wawancara, studi pustaka dan penyebaran kuisioner dengan pemilihan sampel secara purposive judgement sampling, memilih orang-orang tertentu yang dianggap mewakili populasi atau berdasarkan penelitian tertentu. Dari 157 responden yang mengisi kuisioner tentang kemampuan petugas dalam mensosialisasi sanksi diperoleh nilami skor tertnggi 89 ( skor 0-29 di kategorikan rendah, 30-59 kategori sedang; 60-89 kategori tertinggi), dan skor terendah 51. Dengan demikian, 42,28 % responden menyatakan bahwa kemampuan petugas mensosialisasikan sanksi yang berlaku di TNGP berada pada tingkat sedang. Dari uji korelasi diperoleh bahwa responden yang menyatakan peran petugas memberikan informasi tinggi, sedang dan rendah tidak berbedaa dengan rata-rata pengetahuan pengunjung tentang sanksi terhadap pelanggaraan yang ada di TNGP.

Taman Nasional Gede Pangrango Sebagai Kawasan Pelestarian Alam. Prosiding Pertemuan Panitia MAB Indonesia Dan Lokakarya Cagar Biosfer (Cisarua, 19-20 Nopember 2002)

21.10.14Hits 178 views|Database PenelitianCetak

Peneliti: Suktojo, Hartanjo W.

Topik : Flora

Tahun : 2004

No. Pustaka:

Abstrak
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) merupakan salah satu gugusan gunung berapi yang membetang dari Bukit Barisan di Pulau Sumatera Sampai ke pulau jawa. Puncak Gunung Gede dan Pangrango ditumbuhi oleh vegetasi khas yang didominasi oleh Cantigi gunung dan Edelweis (Anaphlisjavanicus) . TNGP memiliki potensi hidrologi kawasan yaitu merupakan hulu 3 DAS (DAS ciliwung,Das citarum, DAS Cimandiri). Dengan ketiga ekosistem utama (sub montana,montana, dan Sub alpin), kawasan ini memiliki kaya dengan beranekaragaman Flora dan fauna . panorama lam TNGP menyebabkan kawasan ini kaya dengan obyek wisata alam, dam menyebabkan hampir 60.000 orang berkunjung ke TNGP pertahunya. Dengan program bioregional yaitu program taman Nasional yang berwawasan luas dengan pelibatan-pelibatan wilayah-wilayah yang ada di sekitarnya , dengan Demikian Semua pihak yang berkepentingan disekitar TNGP dapat  mendukung program TNGP paling tidak dalam pengembangan suatu wilayah aspek-aspk konservasi dan lingkungan hidup selalu di perrhatikan. TNGP, Taman Nasional Gunung Halimun, dan Kompleks Gunung Salak yang terletak berdekatan, memungkinkan memiliki kesamaan kekayaan flora fauna, dan ketiga kawasan hutan ini penting sebagai sumber air bagi kabupaten sukabumi, bogor, lebak, serta DKI jakarta, menurut catatan ada 6 sungai besar berhulu di ketiga kawasan ini. Ketiga kawasan ini bila ditinjau dari segi ilmiah merupakan habitat satwa langka elang jawa. Oleh karena itu bila memungkinkan perlu dibangun suatu koridor (Hutan) yang secara fisik ada di lapangan untuk memudahkan pergerakan satwa. Beberapa program yang di kembangkan oleh TNGP  baerwawasan bioregional yaitu :
1.    Peningkatan Upaya Pengelolaan Kawasan
2.    peningkatan kemampuan Aparatus dan Evaluasi lapangan
3.    peningkatan peran(pemamfatan)
4.    Peningkatan kesejahteraan masyarakat
5.    Peningkatan apresiasi dan kepedulian masyarakat

Gangguan Satwa Liar Mamalia Besar dan Nilai Kerugianya di Daerah Penyangga Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Jawa Barat.

21.10.14Hits 312 views|Database PenelitianCetak

Peneliti: Suprapto

Topik : Flora

Tahun : 2000

No. Pustaka:

Abstrak
Penelitian ini diharapkan dapat mengetahui gangguan satwaliar terhadap kondisi fisik dan fsikologis penduduk di sekitar TNGP. Disamping itu juga ingin mengetahui gangguan satwaliar terhadap komoditas budidaya di sekitar taman nasional meliputi kerusakan taman budidaya, pemangsaan ternak dan ikan, serta nilai kerugiannya secara financial. Tujuan penenelitian ini secara umum adalah mengetahui nilai kerugian secara ekonomis terhadap kerusakan/pemangsaan komoditas budidaya yang di timbulkan oleh satwaliar TNGP di daerah penyangga dan secara khusus bertujuan mengetahui jenis satwa liar mamalia. mengetahui nilai kerugian secara ekonomis terhadap kerusakan/pemangsaan komoditas budidaya yang di timbulkan oleh satwaliar TNGP di daerah penyangga dan secara khusus bertujuan mengetahui jenis satwa liar mamalia. Besar penghuni taman nasional yang memasuki daerah penyangga, mengetahui keamanan gangguan fisik dan fsikologis penduduk akibat satwa liar yang keluar kawasan dan memasuki pemukiman dan sekitarnya, mengetahui besarnya kerusakan komoditas budidaya akibat gangguan satwa liar perkejadian gangguan dan waktu gangguan satwa liar dan gangguan satwa liar terhadap komoditas Budidaya. Data di analisis secara dekskriptif dengan tabulasi dan grafik, jenis satwa liar mamalia besar yang sering keluar dari kawasan TNGP adalah babi hutan (Sus scrofa), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), kijang (Muntiacus muntjak), macan tutul (Panthera pardus), musang (Paradoxurus hermaprodictus), dan sero berang-berang (aonyk cinerea). Keluarnya satwa liar di duga karena daerah jelajahnya telah berubah menjadi lahan budidaya dan  pemukiman di sekitar kawasan TNGP. Penilaian responden atas gangguan satwaliar secara umum yaitu 69.48 % (menggangu), 14.85 % (tidak mengganggu) dan 16.44 % (tidak tahu). Berdasarkan presentasi ini, menunjukan bahwa hadirnya satwaliar di sekitar pemukiman dapat mengganggu keamanan penduduk baik secara fisik maupun psikologis. Dampak fisik yang di maksud adalahterlukanya penduduk oleh serangan satwa liar. Dampak psikologis yang di maksud yaitu hilangnya rasa aman penduduk untuk menjalankan pekerjaan sehari-hari dan rasa resah/ takut yang penduduk alami jika melihat atau mendengar satwaliar tadi di daerah penyangga. Penilaian responden terhadap gangguan satwaliar secara lebih rinci berdasarkan jenis pertanyaan dan jenis satwaliar adalah satwaliar yang pernah melukai penduduk di sekitar TNGP yaitu babi hutan (5.06%), satwaliar yang menyebabkan penduduk menghentukan pekerjaannya sehari-hari bila melihat/mendengar satwaliar memasuki daerah penyangga adalah macan tutul (68.54%), sedangkan satwaliaryang menyebabkan penduduk merasa takut dan was-was bila satwaliar memasuki daerah penyangga TNGP adalah macan tutul (96.24%) dan monyet ekor panjang (44.60%). Selama penelitian, babi hutan merupakan satwaliar yang lebih banyak menimbulkan kerusakan komoditas pertanian seperti tanaman padi sawah, padi ladang, jagung, singkong dan pisang dengan nilai kerugian ± sebesar Rp. 15.863.192,-. Nilai kerugian terbesar berikutnya ditimbulkan oleh musang yang memangsa ikan sebesar Rp. 5.330.375,-. Nilai kerugian ekonomis yang berbeda-beda, disebabkan perbedaan frekuensi serangan satwa liar terhadap komoditas budidaya. Penyebab perbedaan nilai ekonomis lainnya adalah topografi tepi batas kawasan TNGP, penutupan vegetasi tepi batas TNGP, jarak jangkauan satwa liar (jarak kejadian), jumlah satwa liar setiap kejadian gangguan dan wakttu kejadian gangguan. Pengendalian gangguan satwa liar terhadap komoditas budidaya dapat dilakukan pihak pengelola TNGP dan penduduk di sekitarnya adalah pemagaran, saluran, parit dan selokan, zona penyangga, pola ganti rugi, penempatan lokasi tanam yang jauh dari hutan, pengubahan jenis-jenis komoditas yang ditanam yaitu jenis tanaman yang tidak disukai oleh satwa liar dan menjaga lahan garapan serta menghalau satwaliar ke dalam kawasan taman nasional menjelang musim panen.