<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Taman Nasional Gunung Gede Pangrango [National Park]</title>
	<atom:link href="http://gedepangrango.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gedepangrango.org</link>
	<description>The Oldest Tropical Mountain Rain Forest of Java</description>
	<pubDate>Sun, 23 Nov 2008 08:53:10 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Kepunahan Owa Jawa Dapat Diperlambat</title>
		<link>http://gedepangrango.org/kepunahan-owa-jawa-dapat-diperlambat/</link>
		<comments>http://gedepangrango.org/kepunahan-owa-jawa-dapat-diperlambat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Nov 2008 11:03:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuswandono</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<category><![CDATA[hylobates moloch]]></category>

		<category><![CDATA[Javan Gibbon]]></category>

		<category><![CDATA[Owa Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gedepangrango.org/?p=453</guid>
		<description><![CDATA[Selasa, 11 November 2008 &#124; 00:48 WIB
Bogor, Kompas - Kepunahan primata endemik Pulau Jawa di habitat alaminya, owa jawa (Hylobates moloch), dapat diperlambat. Di antaranya, melalui keberpihakan pemerintah mempertahankan hutan tersisa di Jawa.
Demikian salah satu keyakinan pada lokakarya Penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Owa Jawa 2008-2018 yang diadakan Asosiasi Peminat dan Ahli Primata Indonesia (APAPI), [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="tglct">Selasa, 11 November 2008 | 00:48 WIB</span></p>
<p>Bogor, Kompas - Kepunahan primata endemik Pulau Jawa di habitat alaminya, owa jawa (<em>Hylobates moloch</em>), dapat diperlambat. Di antaranya, melalui keberpihakan pemerintah mempertahankan hutan tersisa di Jawa.</p>
<p>Demikian salah satu keyakinan pada lokakarya Penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Owa Jawa 2008-2018 yang diadakan Asosiasi Peminat dan Ahli Primata Indonesia (APAPI), berlangsung di Bogor, Senin-Selasa (10-11 September). ”Kami berharap ada komitmen para pihak untuk menjaga hutan tersisa,” kata Ketua APAPI Noviar Andayani di Bogor, Senin (10/11).</p>
<p><span id="more-453"></span>Tahun 2018, populasinya diharapkan stabil dan tak ada konversi hutan, terutama di kawasan habitat alaminya. Survei 2008 diharapkan menemukan perkiraan terkini populasi di alam.</p>
<p>Ada dua perkiraan populasi owa jawa pada tahun 2004 (dua penelitian terpisah), masing-masing kisaran 4.000-4.500 dan 2.600-5.304 ekor. Badan Konservasi PBB mengategorikan terancam punah bagi primata yang sempat berstatus kritis (tahun 1996-2000) itu.</p>
<p>Lokakarya dua hari itu di antaranya diisi dengan diskusi kelompok mengidentifikasi masalah, ancaman, dan solusi realistis di tengah kondisi aktual. Peserta: para pengambil keputusan di pusat dan daerah, ahli primata, akademisi, dan aktivis lingkungan.</p>
<p>Survei lapangan di Jawa Barat dan Jawa Tengah. ”Kami belum bisa memperkirakan populasi di Jawa Barat. Belum selesai dan butuh data peta sebaran hutannya,” kata Ketua Kelompok Survei Owa Jawa di beberapa kawasan di Jabar, Made Wedana.</p>
<p>Hal sama diungkapkan penyurvei owa jawa wilayah Jateng, Arief Setiawan. ”Dari perjumpaan langsung di wilayah survei kurang dari seratus ekor. Tapi, belum bisa diestimasi seluruhnya.”</p>
<p>Sebaran owa jawa di Jateng meliputi kawasan cagar alam Gunung Slamet dan Linggojati dan Sokakembang di Pekalongan. Perjumpaan tak langsung terjadi di kawasan Sekarlangit, tak jauh dari Pekalongan.</p>
<p>Sebaran di Jabar mulai dari Taman Nasional Ujung Kulon, TN Gunung Gede-Pangrango, TN Gunung Halimun-Salak, cagar alam Gunung Burangrang, Gunung Tilu, Gunung Simpang, Gunung Papandayan, dan Sancang.</p>
<p>Kerusakan hutan hampir di semua lokasi cagar alam atau hutan lindung, seperti di cagar alam Sancang dan Papandayan, serta di Sokakembang. ”Dua tahun lalu, saya masuk hutan di Pekalongan masih rapat, sekarang sudah terbuka,” kata Arief.</p>
<p>Menurut dosen dan peneliti Institut Pertanian Bogor, Entang Iskandar, owa jawa secara alami di ketinggian pohon. Namun, temuan tim penyurvei Garut, Jabar, owa jawa turun ke lantai hutan. Kondisi itu memudahkan tertangkap pemburu liar. (GSA)</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="color: gray;" lang="IN">[Source: <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/11/11/0048332/kepunahan.owa.jawa.dapat.diperlambat" target="_blank">cetak.kompas.com</a> | teks © </span><span style="color: #808080;">2008 Kompas Gramedia<span style="color: gray;" lang="IN">]</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gedepangrango.org/kepunahan-owa-jawa-dapat-diperlambat/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Penebang Liar Tertangkap Polhut TNGGP</title>
		<link>http://gedepangrango.org/tim-operasi-satpolhut-bbtnggp-berhasil-menjaring-pelaku-illegal-logging/</link>
		<comments>http://gedepangrango.org/tim-operasi-satpolhut-bbtnggp-berhasil-menjaring-pelaku-illegal-logging/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 05:49:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<category><![CDATA[illegal logging]]></category>

		<category><![CDATA[konservasi]]></category>

		<category><![CDATA[Polhut]]></category>

		<category><![CDATA[Polsek Ciawi]]></category>

		<category><![CDATA[Taman Nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gedepangrango.org/?p=427</guid>
		<description><![CDATA[Jumat, 17 Oktober 2008 sekitar pukul 07.45 WIB Tim Operasi Satuan Polhut BBTNGGP berhasil menangkap pelaku penebangan liar di dalam kawasan TNGGP tepatnya di Blok Cikereteg Resort Tapos, Pal TN 2171. Barang bukti berupa 3 batang Kayu Huru @ panjang ± 3 m, diameter ± 25 cm. Pelaku yang berumur 19 tahun adalah warga Desa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Jumat, 17 Oktober 2008 sekitar pukul 07.45 WIB Tim Operasi Satuan Polhut BBTNGGP berhasil menangkap pelaku penebangan liar di dalam kawasan TNGGP tepatnya di Blok Cikereteg Resort Tapos, Pal TN 2171. Barang bukti berupa 3 batang Kayu Huru @ panjang ± 3 m, diameter ± 25 cm. Pelaku yang berumur 19 tahun adalah warga Desa Bojong Murni dan seorang pelaku lainnya melarikan diri dan masih dalam pengejaran petugas (DPO). Barang sitaan berupa golok, gergaji, beliung, sipatan dan asahan.  Pelaku tertangkap </span><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">basah </span><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">oleh Tim Operasi yang dipimpin oleh Kasatgas Polhut BB TNGGP </span><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">ketika sedang memotong kayu menjadi 3 bagian.</span><span id="more-427"></span><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Penangkapan diawali atas informasi yang diperoleh unit Opsintel Polhut BBTNGGP bahwa di Resort Tapos SPTN Wilayah VI Tapos, BPTN Wilayah III Caringin terjadi pencurian pohon di dalam kawasan dengan modus para pelaku masuk ke dalam hutan pada waktu dini hari. Setelah dilakukan pengintaian selama seminggu secara intensif oleh Tim Operasi Fungsional POLHUT yang terdiri dari unsur Unit Opsintel, Unit Provoost dan anggota dari Unit Polhut Wilayah III Caringin akhirnya target operasi (TO) dapat tertangkap tangan dan diringkus di tempat (TKP). Selanjutnya pelaku dan barang bukti tersebut dibawa ke Mapolsek Ciawi untuk diproses lebih lanjut.  Semoga kejadian ini menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk meningkatkan kewaspadaan demi mengemban amanat mengelola kawasan TNGGP agar lestari, yang menjadi bagian dalam fungsinya sebagai sistem penyangga kehidupan bagi komunitas dan jumlah manusia yang lebih banyak lagi. </span></p>
<p><span style="color: silver;">[ teks &amp; gambar © TNGGP 112008 | irfan ]</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gedepangrango.org/tim-operasi-satpolhut-bbtnggp-berhasil-menjaring-pelaku-illegal-logging/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Berdirinya Perkumpulan GEDEPAHALA</title>
		<link>http://gedepangrango.org/pendirian-perkumpulan-gedepahala/</link>
		<comments>http://gedepangrango.org/pendirian-perkumpulan-gedepahala/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 10:13:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tangguh Triprajawan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<category><![CDATA[adopsi pohon]]></category>

		<category><![CDATA[GEDEPAHALA]]></category>

		<category><![CDATA[TNGGP]]></category>

		<category><![CDATA[tnghs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gedepangrango.org/?p=348</guid>
		<description><![CDATA[




Pada hari Selasa, tanggal 7 Oktober 2008 telah berdiri Perkumpulan GEDEPAHALA. Perkumpulan GEDEPAHALA dibentuk dalam rangka merevitalisasi dan mempercepat akselerasi kinerja Konsorsium GEDEPAHALA [Gede-Pangrango-Halimun-Salak] yang sudah ada. Point penting dari didirikannya perkumpulan GEDEPAHALA adalah untuk mewujudkan terbentuknya koridor antara Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) sebagai satu kesatuan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_382" class="wp-caption alignleft" style="width: 138px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://gedepangrango.org/wp-content/uploads/2008/11/abcd0007.jpg"><img class="size-medium wp-image-382" title="abcd0007" src="http://gedepangrango.org/wp-content/uploads/2008/11/abcd0007-240x180.jpg" alt="" width="128" height="97" /></a></dt>
</dl>
</div>
<p>Pada hari Selasa, tanggal 7 Oktober 2008 telah berdiri Perkumpulan GEDEPAHALA. Perkumpulan GEDEPAHALA dibentuk dalam rangka merevitalisasi dan mempercepat akselerasi kinerja Konsorsium GEDEPAHALA [Gede-Pangrango-Halimun-Salak] yang sudah ada. <em>Point</em> penting dari didirikannya perkumpulan GEDEPAHALA adalah untuk mewujudkan terbentuknya koridor antara Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) sebagai satu kesatuan ekosistem (termasuk manusia di dalamnya) melalui implementasi berbagai program prioritas, salah satunya Program Adopsi Pohon.<span id="more-348"></span></p>
<p>TNGGP dan TNGHS memiliki ekosistem hutan hujan tropis pegunungan dengan  karakteristik yang hampir sama.  Dengan adanya perkumpulan ini diharapkan akan muncul luaran kegiatan yang positif dengan memadukan kesamaan karakteristik tersebut. Hal ini tersurat dalam maksud dan tujuan perkumpulan GEDEPAHALA, yaitu mendukung pengembangan TNGGP dan TNGHS sebagai satu kesatuan ekosistem dan mengembangkan program perlindungan kawasan konservasi sebagai sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya serta pemanfaatan sumberdaya alam secara lestari yang ada di kawasan TNGGP dan TNGHS.</p>
<p>Dari perkumpulan ini tentunya akan terjalin kerjasama dan pertukaran informasi bukan saja hanya antara TNGGP dan TNGHS, namun antar semua anggota perkumpulan secara lebih intensif untuk memajukan dan melestarikan ekosistem GEDEPAHALA dan kawasan konservasi [Taman Nasional] yang ada di dalamnya. Semoga dengan terbentuknya Perkumpulan GEDEPAHALA ini dapat mendukung upaya konservasi sumberdaya alam dan ekosisitemnya di kawasan TNGGP, TNGHS dan sekitarnya sebagai kesatuan ekosistem. <!--[if gte mso 10]><br />
<mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --></p>
<p><!--[endif]--><span style="color: #999999;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;; color: #5f5f5f;">[ teks &amp; gambar © TNGGP 112008 | tangguh ]</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gedepangrango.org/pendirian-perkumpulan-gedepahala/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Owa Jawa Terancam Punah</title>
		<link>http://gedepangrango.org/owa-jawa-terancam-punah/</link>
		<comments>http://gedepangrango.org/owa-jawa-terancam-punah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 08:06:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuswandono</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<category><![CDATA[Green Radio]]></category>

		<category><![CDATA[Gunung Gede Pangrango]]></category>

		<category><![CDATA[hylobates moloch]]></category>

		<category><![CDATA[Javan Gibbon]]></category>

		<category><![CDATA[Owa Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gedepangrango.org/?p=384</guid>
		<description><![CDATA[



Owa Jawa, merupakan salah satu hewan primata paling langka. Keberadaannya masuk dalam status “terancam punah”. Selain makin sedikit, banyak yang memburu hanya untuk dipelihara. Pemberian status terancam ini sepertinya justru menarik masyarakat untuk kepentingan pribadi.
Saat ini Owa Jawa hidup sebagian besar di hutan-hutan di Jawa Barat, sebagian kecil di Jawa Tengah, Gunung Slamet, dataran tinggi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_387" class="wp-caption alignleft" style="width: 130px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://gedepangrango.org/wp-content/uploads/2008/11/20080901_owajawa-greenradio-1.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-387" title="20080901_owajawa-greenradio-1" src="http://gedepangrango.org/wp-content/uploads/2008/11/20080901_owajawa-greenradio-1-120x90.jpg" alt="" width="120" height="90" /></a></dt>
</dl>
</div>
<p><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Owa Jawa, merupakan salah satu hewan primata paling langka. </span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"><em>Keberadaannya masuk dalam status “terancam punah”. Selain makin sedikit, banyak yang memburu hanya untuk dipelihara. Pemberian status terancam ini sepertinya justru menarik masyarakat untuk kepentingan pribadi.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span id="more-384"></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Saat ini Owa Jawa hidup sebagian besar di hutan-hutan di Jawa Barat, sebagian kecil di Jawa Tengah, Gunung Slamet, dataran tinggi Dieng dan Jawa Timur. Makanan Owa Jawa adalah buah-buahan alami, daun muda dan serangga. Owa Jawa dapat hidup sampai umur 20 tahun. Ciri khas dari hewan ini adalah teriakkan atau nyanyiannya. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Teriakkan atau nyanyian Owa Jawa menandakan territorial tempat tinggal dan area mencari makan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Saat ini berbagai upaya telah dilakukan untuk menyelamatkan Owa Jawa dari kepunahan. Diantaranya kegiatan edukasi masyarakat luas, khususnya yang tinggal di daerah kawasan hutan. Anton Ario dari <em>Conservation International Indonesia </em>(CII) mengatakan, masyarakat sekitar hutan sangat berperan penting dalam proses pemberian informasi mengenai pendeteksian keberadaan Owa Jawa yang dipelihara oleh masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Proses Rehabilitasi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Jawa Barat, tepatnya di resort Bodogol, terdapat pusat rehabilitasi Owa Jawa. Owa Jawa yang masuk rehabilitasi biasanya berumur tujuh tahun. Rehabilitasi Owa Jawa perlu dilakukan secara bertahap agar dapat mengembalikan kemampuan survival Owa Jawa yang telah lama dipelihara oleh masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Mulanya Owa Jawa dimasukkan karantina untuk diperiksa kesehatannya dan juga perubahan perilaku yang terjadi seperti pola makan dan interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Saat dipelihara Owa Jawa selalu diberi makan buah-buahan secara teratur, tetapi pada saat dikembalikan ke alam bebas, Owa Jawa harus belajar mencari sendiri dimana ada buah di hutan. </span></p>
<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_388" class="wp-caption alignright" style="width: 130px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://gedepangrango.org/wp-content/uploads/2008/11/20080901_owajawa-greenradio-2.jpg"><img class="size-medium wp-image-388" title="20080901_owajawa-greenradio-2" src="http://gedepangrango.org/wp-content/uploads/2008/11/20080901_owajawa-greenradio-2.jpg" alt="" width="120" height="130" /></a></dt>
</dl>
</div>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Setelah melewati masa karantina kurang lebih selama 1–1,5 bulan, Owa Jawa siap untuk dilepaskan ke alam bebas untuk dapat bersosialisasi dengan lingkungan aslinya. Petugas selalu melakukan monitoring terhadap Owa Jawa yang baru dilepaskan untuk dapat mengetahui perkembangan yang terjadi terhadap Owa Jawa tersebut.</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Untuk menyelamatkan Owa Jawa dari ancaman kepunahan, perlu dilakukan kerjasama semua pihak. Selain upaya penegakkan hukum yang lebih kongkret dan tegas terhadap para pemburu Owa Jawa, juga diperlukan kegiatan pendidikan dan sosialisasi informasi kepada masyarakat luas, agar lebih peduli kepada hewan primata ini yang jumlahnya makin sedikit.  Mari selamatkan Owa Jawa dari kepunahan!! </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="color: gray;">[Source: <a href="www.greenradio.fm">www.greenradio.fm</a> | </span><span style="color: gray;">Monday, 01 September 2008 | </span><span style="color: gray;">teks &amp; gambar © greenradio.fm | </span><span style="color: gray;">Danny JS</span><span style="color: gray;">]</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gedepangrango.org/owa-jawa-terancam-punah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>SAAR, anak owa yang mencari jati diri</title>
		<link>http://gedepangrango.org/saar-anak-owa-yang-mencari-jati-diri/</link>
		<comments>http://gedepangrango.org/saar-anak-owa-yang-mencari-jati-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2008 16:02:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuswandono</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[Javan Gibbon]]></category>

		<category><![CDATA[Owa Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gedepangrango.org/?p=409</guid>
		<description><![CDATA[



SAAR memiliki rambut abu-abu keperakan yang cukup lebat. Hal tersebut dapat menggambarkan kondisi kesehatannya yang cukup baik karena gizi yang cukup ketika dititipkan untuk dirawat oleh pengasuh satwa di International Animal Rescue [IAR] Indonesia di Ciapus, lereng Gunung Salak. Sangat berbeda ketika SAAR, anak owa jawa ini ditemukan oleh petugas Taman Nasional Gunung Halimun Salak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_393" class="wp-caption alignright" style="width: 130px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://gedepangrango.org/wp-content/uploads/2008/11/saar-1_iar.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-393" title="saar-1_iar" src="http://gedepangrango.org/wp-content/uploads/2008/11/saar-1_iar-120x90.jpg" alt="" width="120" height="90" /></a></dt>
</dl>
</div>
<p>SAAR memiliki rambut abu-abu keperakan yang cukup lebat. Hal tersebut dapat menggambarkan kondisi kesehatannya yang cukup baik karena gizi yang cukup ketika dititipkan untuk dirawat oleh pengasuh satwa di <em>International Animal Rescue </em>[IAR] Indonesia di Ciapus, lereng Gunung Salak. Sangat berbeda ketika SAAR, anak owa jawa ini ditemukan oleh petugas Taman Nasional Gunung Halimun Salak [TNGHS] dipelihara oleh penduduk sekitar bulan Februari 2008 yang lalu.</p>
<p><span id="more-409"></span></p>
<p>Sedikit masalah timbul pada waktu mendapatkan SAAR pertama kali, akan di-<em>rescue </em>ke mana? Sementara petugas TNGHS tidak ada yang mendalami perawatan owa, tidak ada fasilitas yang memadai untuk melakukan rangkaian tahapan <em>rescue</em>, mulai dari proses pengecekan kesehatan, karantina dan perawatan selanjutnya, bahkan untuk perawatan awal sementara pun tidak ada. Demikian pula petugas Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam [BBKSDA] Jawa Barat, Bidang Bogor, juga memiliki permasalahan yang sama dengan petugas TNGHS. Apalagi SAAR masih sangat kecil, ibarat bayi pada manusia, mesti mendapatkan perawatan dan perhatian khusus selama 24 jam sehari oleh ibu sebenarnya ataupun ”ibu” asuhnya.</p>
<p>Setelah melakukan kontak ke lokasi <em>rescue </em>center terdekat: <em>Javan Gibbon Center </em>[JGC] di Bodogol-TN Gunung Gede Pangrango [TNGGP], tidak memungkinkan menerima SAAR saat itu karena fasilitas kandang karantina penuh dan tidak ada perawat satwa yang memungkinkan berdaja selama 24 jam sehari. Demikian pula Pusat Transit Satwa Gadog juga memiliki masalah yang sama. Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga [PPSC] bersedia membantu perawatan sementara SAAR di PPSC, asal SAAR diantar ke Cikananga, Sukabumi. Akhirnya kami menghubungi IAR Indonesia-Ciapus untuk minta bantuan mentranslokasi SAAR dari Kabandungan ke Cikananga. Namun ternyata setelah Drh. Karmele dari IAR Indonesia menjemput SAAR di Kabandungan pada tanggal 21 Februari 2008 di antara waktu luang dalam mengikuti <em>The Indonesian Gibbon Conservation and Management Workshop </em>di Hotel Lido, barulah disadari bahwa SAAR juga tidak memungkinkan untuk di-rescue ke Cikananga, karena di PPSC juga tidak ada perawat satwa yang bisa merawat SAAR selama 24 jam sehari. Berdasarkan kesepakatan bersama, akhirnya SAAR di-<em>rescue </em>ke IAR Indonesia di Ciapus, meskipun sebenarnya IAR saat itu baru memfokuskan penyelamatan pada jenis monyet ekor panjang, beruk dan kukang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gedepangrango.org/saar-anak-owa-yang-mencari-jati-diri/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Osaka ke Nagrak, Daikin Membawa Pohon</title>
		<link>http://gedepangrango.org/dari-osaka-ke-nagrak-daikin-membawa-pohon/</link>
		<comments>http://gedepangrango.org/dari-osaka-ke-nagrak-daikin-membawa-pohon/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 17:56:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuswandono</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<category><![CDATA[89.2 fm green radio]]></category>

		<category><![CDATA[adopsi pohon]]></category>

		<category><![CDATA[CI]]></category>

		<category><![CDATA[daikin]]></category>

		<category><![CDATA[restorasi]]></category>

		<category><![CDATA[TNGGP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gedepangrango.org/?p=356</guid>
		<description><![CDATA[Kamis, 06 November 2008
Perusahaan AC ini menghutankan kembali 200 hektar areal TN Gunung Gede Pangrango. Menteri Kehutanan menyeru supaya lebih banyak lagi pengusaha terlibat dalam gerakan menanam pohon. Medco sediakan 1 juta bibit tanaman per tahun.
Nagrak adalah satu kecamatan di Sukabumi. Letaknya agak di perbukitan, menempel di kaki Gunung Gede Pangrango. Pagi itu, Rabu, 5 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kamis, 06 November 2008</p>
<div id="attachment_358" class="wp-caption alignleft" style="width: 130px"><a href="http://gedepangrango.org/wp-content/uploads/2008/11/daikin6.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-358" title="daikin6" src="http://gedepangrango.org/wp-content/uploads/2008/11/daikin6-120x90.jpg" alt="" width="120" height="90" /></a><p class="wp-caption-text"> </p></div>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Perusahaan AC ini menghutankan kembali 200 hektar areal TN Gunung Gede Pangrango. Menteri Kehutanan menyeru supaya lebih banyak lagi pengusaha terlibat dalam gerakan menanam pohon. Medco sediakan 1 juta bibit tanaman per tahun.</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-356"></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Nagrak adalah satu kecamatan di Sukabumi. Letaknya agak di perbukitan, menempel di kaki Gunung Gede Pangrango. Pagi itu, Rabu, 5 November, bertepatan dengan hari puspa dan cinta satwa, Nagrak ramai oleh tetamu. Sebuah panggung ditata rapi di atas bukit. Diantara pohon damar yang mulai jarang daunnya. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Gamelan degung mengiringi para tamu datang, bukan hanya dari Sukabumi, Jakarta, tetapi juga dari Jepang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">”Terimakasih sudah mengundang saya ke tempat yang indah ini,” kata Satoru Fujimoto, <em>General Manager Daikin Industries Ltd</em>. Ia baru tiba semalam, khusus untuk acara penanaman pohon ini. Dan, akan segera kembali ke Jepang di hari yang sama.  Daikin bekerjasama dengan <em>Conservation International</em> (CI), akan menghutankan kembali 200 hektar areal bekas Perhutani yang sekarang masuk menjadi area TN Gunung Gede Pangrango.  Hari ini adalah penanda dimulainya program Daikin di Sukabumi. Mereka akan menanam rasamala, manglid, suren, dan berbagai pohon endemik Gunung Gede Pangrango.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_361" class="wp-caption alignright" style="width: 250px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://gedepangrango.org/wp-content/uploads/2008/11/daikin5.jpg"><img class="size-medium wp-image-361" title="daikin5" src="http://gedepangrango.org/wp-content/uploads/2008/11/daikin5-240x170.jpg" alt="" width="240" height="170" /></a></dt>
</dl>
</div>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Daikin merupakan produsen alat pendingin udara (AC) terbesar kedua di dunia. Perusahaan berbasis di Osaka, Jepang ini, termasuk perusahaan yang sadar bahaya rusaknya lingkungan. ”Tidak ada perusahaan bisa hidup terus, kalau lingkungannya rusak,” kata Fujimoto. Itu sebabnya, Daikin berusaha mengurangi dampak kerusakan dari kegiatan ekonominya. Sejak 2001,  Daikin mengurangi 70% emisi dari produk produknya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Walaupun belum mempunyai pabrik di Indonesia, Daikin telah memasarkan produknya di sini. Bahkan Indonesia dengan penduduk lebih dari 240 juta jiwa, tergolong pasar yang besar.  Itu sebabnya, Daikin juga merencanakan untuk membuka pabrik di Indonesia, selain yang sudah ada di Malaysia dan Vietnam.  ” Paling lambat tiga tahun lagi, kami akan buka pabrik,” kata Fujimoto kepada Green Radio.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Menteri Kehutanan MS Kaban, dalam pidatonya menyatakan para pengusaha perlu terlibat lebih banyak dalam gerakan menanam pohon.  Ia menyambut baik inisiatif Daikin, dan berharap mereka menularkan kepada yang lain.  ”Katakan pada pengusaha lain, supaya ikut menanam pohon di Indonesia,” kata Kaban. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Ia juga mengajak masyarakat sekitar untuk turut merawat pohon pohon yang ditanam di Nagrak itu.  Dalam areal 200 hektar, setidaknya akan ditanam 80.000 pohon hutan. Sementara masyarakat masih dapat memanfaatkan lahan di sela sela tegakan untuk pertanian.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Kaban mengakui upaya penanaman pohon tak bisa hanya digantungkan pada pemerintah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gedepangrango.org/dari-osaka-ke-nagrak-daikin-membawa-pohon/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tanam Pohon, Tanam Kebajikan</title>
		<link>http://gedepangrango.org/tanam-pohon-tanam-kebajikan/</link>
		<comments>http://gedepangrango.org/tanam-pohon-tanam-kebajikan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Nov 2008 18:50:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuswandono</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<category><![CDATA[adopsi]]></category>

		<category><![CDATA[Green Radio]]></category>

		<category><![CDATA[pohon]]></category>

		<category><![CDATA[restorasi]]></category>

		<category><![CDATA[tana]]></category>

		<category><![CDATA[tanam]]></category>

		<category><![CDATA[TNGGP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gedepangrango.org/?p=369</guid>
		<description><![CDATA[Kamis, 30 Oktober 2008





Selama dua hari penuh 24-25 Oktober 2008, tim relawan tanam pohon dalam kegiatan bulan adopsi pohon Green Radio, penuh berpeluh menaiki gunung gede setinggi 1800 meter diatas permukaan laut. Bukan untuk bersantai, tapi rela berkotor tangan dan pakaian, menapaki tebing untuk menanam pohon. Sebanyak 2000 batang pohon Rasamala, Puspa dan Suren genap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span>Kamis, 30 Oktober 2008</span></p>
<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_371" class="wp-caption alignleft" style="width: 130px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://gedepangrango.org/wp-content/uploads/2008/11/tanam2.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-371" title="tanam2" src="http://gedepangrango.org/wp-content/uploads/2008/11/tanam2-120x90.jpg" alt="" width="120" height="90" /></a></dt>
</dl>
</div>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Selama dua hari penuh 24-25 Oktober 2008, tim relawan tanam pohon dalam kegiatan bulan adopsi pohon Green Radio, penuh berpeluh menaiki gunung gede setinggi 1800 meter diatas permukaan laut. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Bukan untuk bersantai, tapi rela berkotor tangan dan pakaian, menapaki tebing untuk menanam pohon. Sebanyak 2000 batang pohon Rasamala, Puspa dan Suren genap ditanam hingga Sabtu 25 Oktober 2008. Para relawan ini berasal dari berbagai komunitas “hijau”, aktivis lingkungan seperti Jakarta Green Monster, Green Club, Green Map, Green lifestyle, Indobackpacker, Komunitas Ciliwung dan serta keluarga yang peduli lingkungan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span id="more-369"></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">“Jangan ke tebing itu nanti jatuh,”teriak Chien Chien, istri Hardi salah satu relawan. Ia sangat khawatir melihat antusiasme sang suami yang dengan ransel di punggung menapaki tebing-tebing Hutan Sahabat Green yang kini sudah berubah fungsi menjadi kebun sayur. Wajar jika Chien Chien khawatir, selain curam, kondisi tanah sehabis hujan pun menjadi sangat licin. “Tanggung,” begitu sahut Hardi. Tas ransel, celana panjang serta kaos hitamnya sudah kotor oleh tanah, tapi keasikan dan kegembiraan berada di Hutan Sahabat Green jelas terpancar di wajah Hardi dan Chien Chien. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_372" class="wp-caption alignright" style="width: 159px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://gedepangrango.org/wp-content/uploads/2008/11/tanam3.jpg"><img class="size-medium wp-image-372" title="tanam3" src="http://gedepangrango.org/wp-content/uploads/2008/11/tanam3-133x180.jpg" alt="" width="149" height="202" /></a></dt>
</dl>
</div>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Bukan Cuma Hardi yang menikmati betul acara tanam pohon pada acara bulan adopsi pohon ini. Annabel baru berusia empat tahun, tapi jalan dengan kemiringan nyaris 60 derajat serta licin tak menyurutkan semangatnya. Dia sampai ditujuan dengan tetap bernyanyi. Sang ayah dengan sabar membimbingnya menanam pohon dengan benar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Sementara Jimmly Asshiddiqie, bekas Ketua Mahkamah Konstitusi, meski terengah, dengan tubuh berpeluh dan nafas tersengal, sampai juga ditempat tujuan. Tentu saja Jimmly tak mau kalah dengan Annabel, gadis kecil itu juga Rebecca Hanschke yang tetap menanjak naik meski dalam kondisi hamil 7 bulan. Jimmly bilang ini adalah langkah konkret dan mulia yang bisa dilakukan masyarakat untuk menyelamatkan lingkungan dan bumi. Jimmly sudah mengadopsi 10 pohon di Hutan Sahabat Green. Dan berkat inisiatif Jimmly pula 9 hakim konstitusi lainnya juga menyumbang masing-masing 10 pohon.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Dikaki bukit, di Desa Ciputri, Tim Green Radio menggelar aksi pengobatan gratis bagi keluarga 43 petani pengurus Hutan Sahabat Green serta warga sekitarnya. Dibantu tim medis dari Palang Merah Indonesia, sekitar 150 orang terobati dari penyakit flu, diare, sesak nafas serta penyakit lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_373" class="wp-caption alignleft" style="width: 238px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://gedepangrango.org/wp-content/uploads/2008/11/tanam4.jpg"><img class="size-medium wp-image-373" title="tanam4" src="http://gedepangrango.org/wp-content/uploads/2008/11/tanam4-228x180.jpg" alt="" width="228" height="180" /></a></dt>
</dl>
</div>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Di malam sebelumnya, Jumat 24 Oktober, dalam gelaran kesenian rakyat yang digelar warga Desa Ciputri, Ketua Kelompok Tani Hutan Sawargi, Dudu yang juga pimpinan kelompok seni mengatakan diperlukan Tiga O, yakni </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"><em>leuweng hejO</em> (Hutan hijau)<br />
<em>seneng anu nenjO </em>(Senang yang melihatnya)<br />
<em>masyarakat ngejO </em>( Masyarakat dapat menanak nasi)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Kalau salah satu O itu tidak terpenuhi, kita akan gagal mencapai tujuan. Kalau hutan tidak kembali hijau, kita gagal mencapai sasaran utama yang menggerakkan Sahabat Green ke sana. Tidak muncul rasa senang, atau manfaat dari ekosistem yang baik. Dan, kalau masyarakat tak bisa menanak nasi, karena penghidupannya terus tercerabut, atau peluang tak ada, hutan itu akan selalu dalam ancaman. Sulit berharap hutan akan langgeng kalau masyarakat sekitarnya kelaparan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gedepangrango.org/tanam-pohon-tanam-kebajikan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menanam Pohon, Menumbuhkan Kepedulian</title>
		<link>http://gedepangrango.org/menanam-pohon-menumbuhkan-kepedulian/</link>
		<comments>http://gedepangrango.org/menanam-pohon-menumbuhkan-kepedulian/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Oct 2008 09:40:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tangguh Triprajawan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<category><![CDATA[gede pangrango]]></category>

		<category><![CDATA[greenradio]]></category>

		<category><![CDATA[hutan sahabat green]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gedepangrango.org/?p=340</guid>
		<description><![CDATA[Wednesday, 29 October 2008





“Ini pohon Abel ya Pa, pohon Papa mana?” kata Anabel  (4) sambil menekan-nekan tanah di sekitar pohon yang baru ia tanam.
Anabel, putri pasangan Benyamin dan Asih, pendengar Green Radio, waga Kelapa Gading, menjadi peserta paling muda dalam acara adopsi pohon yang difasilitasi Green Radio, di Hutan Sahabat Green, Taman Nasional Gunung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wednesday, 29 October 2008</p>
<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_341" class="wp-caption alignleft" style="width: 131px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://gedepangrango.org/wp-content/uploads/2008/10/picture12.jpg"><img class="size-medium wp-image-341" title="picture12" src="http://gedepangrango.org/wp-content/uploads/2008/10/picture12.jpg" alt="" width="121" height="90" /></a></dt>
</dl>
</div>
<p>“Ini pohon Abel ya Pa, pohon Papa mana?” kata Anabel  (4) sambil menekan-nekan tanah di sekitar pohon yang baru ia tanam.</p>
<p><em>Anabel, putri pasangan Benyamin dan Asih, pendengar Green Radio, waga Kelapa Gading, menjadi peserta paling muda dalam acara adopsi pohon yang difasilitasi Green Radio, di Hutan Sahabat Green, Taman Nasional Gunung Gede Pangarango.</em><span id="more-340"></span></p>
<p>Siang itu, di lereng Gunung Gede Pangarango, matahari tidak mampu menembus daun-daun pohon walapun tidak rindang lagi, tapi minimal masih memberi kesejukan bagi peserta adopsi pohon yang umumnya dari Kota Jakarta yang panas. Satu persatu bibit pohon Suren, Rasamala, Puspa dan Saninten, yang disediakan petani, ditanam ke lubang-lubang yang tersedia. Tak kurang dari 30 orang peserta bergabung dalam penanaman bibit pohon asli Gunung Gede Pangarango ini.</p>
<p>Di antara orang-orang dewasa itu Anabel, dengan baju pinknya, turut ambil peran. Dengan bantuan ayahnya ia membawa bibit pohon dan mencari lubang untuk menanam pohon tersebut.</p>
<p>Anabel kecil, tentu tidak pernah berpikir bahwa hutan di Taman Nasional Gunung Pangarango telah mengalami kerusakan. Anabel juga tidak pernah berpikir penanaman pohon ini berfungsi untuk mencegahan erosi tanah, pencegah banjir dan meningkatkan kualitas air. Sama sekali Anabel belum mengerti setiap pohon memproduksi O2 yang mencukupi keperluan 2 orang untuk bernapas setiap tahunnya. Anabel juga belum mengerti sebuah pohon menyerap dan menyaring karbon dioksida (CO2 ), yang merupakan penyebab utama terjadinya perubahan iklim, dan dengan menanam pohon akan meningkatkan kualitas udara.</p>
<p>Anabel masih terlalu kecil untuk mengerti berbagai manfaat dari penanaman pohon. Yang pasti dia  merasa senang melakukan aktivitas baru ini. Rasanya kok terlalu dini untuk menjelaskan kepada Anabel tentang konservasi keanekaragaman hayati, keindahan alam, keberlanjutan pendapatan masyarakat untuk memperoleh mata pencaharian yang layak. Anabel tentu belum berpikir pohon yang ditanam oleh tangannya sendiri 10 tahun mendatang akan mengambil peran untuk mencegah terjadinya banjir.</p>
<p>Lalu apa manfaat kegiatan adopsi pohon ini buat Anabel yang hanya meniru dan mengikuti arahan ayahnya. Dalam kegiatan menanam pohon seperti ini secara tidak langsung ada nilai hidup yang  ditanamkan dalam diri Anabel, yaitu bersahabat dengan alam. Dan nilai itulah yang lebih penting buat anak-anak seumur Anabel.</p>
<p>Seperti pengakuan Benyamin, ayah Anabel, dengan kegiatan seperti ini anak kecil diajari sejak awal tentang lingkungan. “Saya ingin anak saya mengerti tentang  lingkungan hidup, mengerti tentang alam, mengerti tentang hutan, mengerti tentang pohon. Hal seperti ini akan jarang dia dapat karena dia terbiasa bermain di mall”</p>
<p>Sabtu, 25/10 hari ke-2  puncak acara Bulan Adopsi Pohon bersama relawan, masyarakat umum, dan pendengar Green Radio, yang tergabung dalam Sahabat Green. Pada hari sebelumnya (Jumat, 24/10) serangkaian acara bersama masyarakat sekitar dan relawan sudah diselengggarakan, seperti sarasehan, penanaman pohon, pentas seni.</p>
<p>Anabel adalah salah satu generasi muda diantara ribuan bahkan jutaan generasi muda lainnya di bumi nusantara ini yang perlu dibangun kesadaran dan kecintaan kepada lingkungan hidup, termasuk dengan adopsi pohon. Dengan terlibat langsung dalam acara penanaman pohon anak mendapatkan langsung pendidikan nilai tentang kearifan alam semesta. Mari ajak generasi muda kita menanam pohon untuk bumi yang lebih hijau.</p>
<p><span style="color: #999999;">[Source: <a href="http://www.greenradio.fm" target="_blank">www.greenradio.fm</a> | teks &amp; gambar © greenradio.fm | Donal]</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gedepangrango.org/menanam-pohon-menumbuhkan-kepedulian/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pengamatan Burung Migran di Paralayang Puncak</title>
		<link>http://gedepangrango.org/pengamatan-burung-migran-di-paralayang-puncak/</link>
		<comments>http://gedepangrango.org/pengamatan-burung-migran-di-paralayang-puncak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2008 00:41:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tangguh Triprajawan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>

		<category><![CDATA[burung]]></category>

		<category><![CDATA[burung pemangsa]]></category>

		<category><![CDATA[elang]]></category>

		<category><![CDATA[elang hitam]]></category>

		<category><![CDATA[elang migran]]></category>

		<category><![CDATA[mata elang]]></category>

		<category><![CDATA[migran]]></category>

		<category><![CDATA[RAIN]]></category>

		<category><![CDATA[raptor]]></category>

		<category><![CDATA[RCS]]></category>

		<category><![CDATA[TNGGP]]></category>

		<category><![CDATA[tnghs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gedepangrango.org/?p=316</guid>
		<description><![CDATA[




“Selasa, 14 Oktober kemarin sampai ribuan burung migran melintas di atas lokasi peluncuran Paralayang Puncak ini!” ungkap Usep Suparman dari RCS (Raptor Conservation Society) menginformasikan kepada para staf  TNGGP yang tergabung dalam grup pengamat elang ketika bersama-sama mengamati burung raptor migran di lokasi peluncuran Paralayang, Puncak tangal 18-19 dan 25 Oktober 2008.
Selain dari TNGGP, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_320" class="wp-caption alignleft" style="width: 131px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://gedepangrango.org/wp-content/uploads/2008/10/20081017_raptormigran-2.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-320" title="20081017_raptormigran-2" src="http://gedepangrango.org/wp-content/uploads/2008/10/20081017_raptormigran-2-150x150.jpg" alt="" width="121" height="121" /></a></dt>
</dl>
</div>
<p>“Selasa, 14 Oktober kemarin sampai ribuan burung migran melintas di atas lokasi peluncuran Paralayang Puncak ini!” ungkap Usep Suparman dari RCS (<em>Raptor Conservation Society</em>) menginformasikan kepada para staf  TNGGP yang tergabung dalam grup pengamat elang ketika bersama-sama mengamati burung raptor migran di lokasi peluncuran Paralayang, Puncak tangal 18-19 dan 25 Oktober 2008.</p>
<p><span id="more-316"></span>Selain dari TNGGP, beberapa pecinta dan pengamat burung raptor seperti dari TN Gunung Halimun Salak - yang bahkan juga dihadiri oleh Dr. Bambang Suprianto - sebagai Kepala Balai, IAR (<em>International Animal Rescue</em>) Indonesia, kelompok mataELANG, kelompok mahasiswa yang tergabung dalam UKF-IPB juga menyempatkan datang ke Paralayang untuk melihat secara langsung migrasi burung secara besar-besaran ini. Untuk sesama pengamat burung, tak asing lagi dengan Iwan Londo yang ikut hadir dalam pengamatan ini bersama Noni.</p>
<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_321" class="wp-caption alignleft" style="width: 127px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://gedepangrango.org/wp-content/uploads/2008/10/20081017_raptormigran-1.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-321" title="20081017_raptormigran-1" src="http://gedepangrango.org/wp-content/uploads/2008/10/20081017_raptormigran-1-150x150.jpg" alt="" width="117" height="117" /></a></dt>
</dl>
</div>
<p>Kesempatan ini memang langka karena hanya terjadi sekitar bulan Oktober - November, ketika burung raptor dari wilayah Utara yang saat itu mulai musim dingin bermigrasi ke wilayah Selatan yang lebih hangat untuk sementara.</p>
<p>Burung migran yang melintas selama dua hari pengamatan didominasi jenis <em>Chinese Goshawk</em> (<em>Accipiter soloensis</em>) disusul <em>Oriental Honey-buzzard</em> (<em>Pernis ptilorhyncus</em>) dan <em>Japanese Sparrowhawk</em> (<em>Accipiter gularis</em>). <em>Chinese Goshawk</em> dan <em>Japanese Sparrowhawk</em> melintas secara bergerombol, sedangkan <em>Oriental Honey-buzzard</em> dikenal dengan nama sikep madu Asia terbang <em>soliter</em> (menyendiri) ataupun dalam kelompok yang relatif kecil.</p>
<p>Burung <em>resident </em>(penetap asli di wilayah setempat) cenderung menjauh dan tidak muncul ketika burung migran secara bergerombol melintas di wilayah mereka. Pada pengamatan tanggal 25 Oktober 2008, mucul 4 burung <em>resident</em>, yaitu 3 ekor elang hitam (<em>Ictinaetus malayensis</em>) dan 1 ekor elang brontok (<em>Spizaetus cirrhatus</em>) fase hitam. Saat itu burung migran memang hanya beberapa kali melintas di pagi dan siang hari saja dalam jumlah kecil. Siang hingga sore tidak ada burung migran yang melintas, saat itulah burung <em>resident </em>keluar dan terbang bebas di atas lokasi peluncuran Paralayang Puncak untuk mencari pakan.</p>
<p><span style="color: #c0c0c0;">[ teks &amp; gambar © TNGGP 102008 | tangguh ]</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gedepangrango.org/pengamatan-burung-migran-di-paralayang-puncak/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jelajah Pangrango di Musim Puspa (4)</title>
		<link>http://gedepangrango.org/jelajah-pangrango-di-musim-puspa-4/</link>
		<comments>http://gedepangrango.org/jelajah-pangrango-di-musim-puspa-4/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Oct 2008 17:38:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gedepangrango.org/?p=308</guid>
		<description><![CDATA[Lembah Mandalawangi





Puncak Pangrango bukanlah tempat terindah. Coba turuni punggung gunung sekitar 100 meter dari puncaknya, Anda akan tiba di Lembah Mandalawangi. Areal seluas 5 hektar itu, dipenuhi edelweis, diselang-seling  cantigi dan melati gunung. Awan berubah ubah warna dan bentuk. Keindahan lembah ini, membayar tunai semua lelah perjalanan. Dan, selalu memanggil kembali. Walaupun malam hari, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 14pt; font-family: Arial;">Lembah Mandalawangi</span></p>
<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_309" class="wp-caption alignleft" style="width: 130px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://gedepangrango.org/wp-content/uploads/2008/10/picture11.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-309" title="picture11" src="http://gedepangrango.org/wp-content/uploads/2008/10/picture11-120x150.jpg" alt="" width="120" height="148" /></a></dt>
</dl>
</div>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Puncak Pangrango bukanlah tempat terindah. Coba turuni punggung gunung sekitar 100 meter dari puncaknya, Anda akan tiba di Lembah Mandalawangi. Areal seluas 5 hektar itu, dipenuhi edelweis, diselang-seling  cantigi dan melati gunung. Awan berubah ubah warna dan bentuk. Keindahan lembah ini, membayar tunai semua lelah perjalanan. Dan, selalu memanggil kembali. Walaupun malam hari, suhu menyentuh 4 C.</span></em></p>
<p><span id="more-308"></span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Selesai makan siang – nasi ikan asin dengan lalap pucuk cantigi &#8211;, dan puas memandangi dinding kawah Gede, kami bergerak pelan menuruni punggung gunung.  Hanya sekitar 5 menit perjalanan, kami sudah tiba di Lembah Mandalawangi.  Lokasi lembah ini sungguh istimewa. Jauh lebih enak dan mudah dijangkau, dibanding Lembah Suryakencana, yang dari Puncak Gede, perlu tambahan perjalanan hampir 2 km. Mandalawangi, seperti menempel di Puncak Pangrango.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Walaupun akhir Juni memang bukan bulan mekarnya edelweis (<em>Anaphalis javanica</em>). Tetapi kuncup kuncupnya mulai bermunculan. Untuk melihatnya mekar penuh, Anda perlu datang ke tempat ini, Agustus - September. Sebelum musim hujan tiba.  Tetapi, kuncup itupun sangat menarik. Warna kuningnya tampak menyolok di tengah kuntum edelweis. Sepanjang lembah, kita temui bunga abadi ini. Kadang bertumbuh diantara cantigi, dan melati gunung yang kuning menyala. </span><span lang="IN"> </span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Hari menjelang sore. Lembah ini tenang sekali. Hampir tak ada suara. Di kejauhan awan kelihatan berubah ubah bentuk dan warna. Kadang hitam, kadang kuning keemasan. Bentuknya pun sangat dinamis. Kami rebahan saja di lembah, menatapi langit yang mengagumkan. Juga keheningan yang menyergap.  ”Tidak percuma jalan jauh ke sini,” kata Erik. Semua kelelahan langsung terbang bersama awan.</span><span lang="IN"> </span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Lembah ini juga tempat favorit Soe Hok Gie, aktifis mahasiswa tahun 60-an.  Hok Gie yang mati terkena gas beracun di Gunung Semeru, sempat dikuburkan di Jakarta. Tetapi, ketika kuburnya digusur  oleh pembangunan Jakarta, teman-temannya mengabukan sisa tulang Gie, dan menaburkannya di Lembah Mandalawangi ini.  (Erik memilih dinding kawah Gede untuk melabuhkan abunya nanti. “Karena saya lebih sering ke sana,” katanya. Dan, Ivan, yang paling muda dari rombongan kami, ketitipan amanat untuk melakukan tugas itu, kalau sampai waktunya).</span><span lang="IN"> </span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Pak Sopian mengantar kami ke beberapa gerombol tanaman yang agak beda. Ini rupanya bekas kebun percobaan Junghun, yang membawa apel ke Puncak Pangrango 1830-an lalu. Junghun rupanya berasumsi kalau suhu udara untuk menanam apel haruslah sama dengan daerahnya di Eropa. Maka ia membawa bibit apel sampai di ketinggian seperti ini, untuk mengejar suhu yang cocok. Tetapi rupanya asumsi itu salah. Bibit apel Junghun hidup, tetapi tak dapat berbuah. Pohonnya pun kerdil sekali.</span><span lang="IN"> </span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"><span> </span>(Belakangan kita tahu, apel cukup subur di Malang dan Soe, Timor Tengah Selatan. Tempat tempat itu tidak terlalu tinggi &#8212; sekitar 1200 mdpl saja. Tetapi mesti dengan suhu udara yang cukup adem.  Kini, apel Soe sudah punah digerogoti penyakit. Apel Malang mulai kurang produktif karena suhu di Batu, Malang makin panas). </span><span lang="IN"> </span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Angin datang cukup sering. Hawa berubah menjadi dingin. Sebetulnya, malam ini kami berencana masak-memasak, tapi gagal oleh dingin yang terlalu cepat menerjang. Jadi kami hanya bikin mie instan, dan kopi penghangat. Dan, sebelum maghrib, suhu udara sudah meluncur ke 7 derajat celcius. Kami sempat khawatir, kalau musim kering begini, pada tengah malam, udara bisa sampai minus.</span><span lang="IN"> </span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Lalu, bersama Pak Sopian dan porter, kami keliling Lembah Mandalawangi mencari kayu kayu kering. Batang yang sudah tumbang.  Juga ranting ranting yang sudah jatuh ke tanah, kami kumpulkan. Haram menebang kayu yang masih hidup. Ranting ranting itu, bisa dipakai untuk penghangat badan, kalau malam makin dingin. Kayu-kayu  kering itu kami taruh di tengah lingkaran tenda tenda. Dan, bergantian kami akan mendekat api, ketika dingin makin menggila.</span><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Dingin memang dapat membuat orang hilang kesadaran.  Tahun 1980-an awal misalnya, di Lembah Mandalawangi ini, dibangun pondok oleh Taman Nasional GGP. Supaya orang bisa berteduh dari amukan dingin, dan angin di malam hari. Tetapi, karena tak tahan, orang orang mulai mengambil papan dari pondokan itu untuk kayu bakar. Mula mula pintunya dibakar. Lalu dindingnya. Dan, akhirnya semua. Sehingga pondok itu lenyap untuk selamanya. Sekali lagi, pecinta alam seperti kami ini, sering menjadi perusak paling berbahaya di taman nasional.</span><span lang="IN"> </span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Untunglah, malam itu dingin tak seburuk yang kami khawatirkan. Beberapa kali saya sempat keluar tenda, melihat bintang bintang yang luar biasa menakjubkan di langit. Tak bosan bosan memandanginya. Kalau saja, cukup kuat menahan dingin, pasti saya lebih suka berlama lama di luar tenda. Tetapi, apa boleh buat, kami keluar tenda kalau mau kencing saja. Terakhir kali sempat keluar tenda, pukul 2 dinihari, saya mengintip termometer yang saya pasang. Suhu sekitar 4 derajat Celcius. Dalam kondisi itu, yang terbaik adalah berjuang untuk bisa tidur. Walaupun tak pernah benar benar lelap.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Pagi hari, kami dapati serpihan es terhampar di plastik yang kami tinggalkan di luar tenda semalam. Udara memang cukup dingin, sanggup membekukan tetes air yang tertinggal di sana. Tetapi, dingin cepat terusir oleh mentari yang merangkak naik. Kami siapkan sarapan, dan juga bekal untuk perjalanan turun nanti. Kami akan menyelesaikan perjalanan turun tanpa berkemah lagi. Jadi mesti cukup tenaga.</span><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Seusai berbenah tenda, rombongan sempat mengambil foto perpisahan. Tempat ini sangat sulit untuk dilupakan. Suatu waktu nanti,  entah kapan, kami pasti akan kembali menjenguk dinginnya Mandalawangi. <strong><span style="font-family: Arial;">(Selesai)</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #999999;">[Source: <a href="http://www.greenradio.fm/" target="_blank">www.greenradio.fm</a> | teks &amp; gambar © greenradio.fm | Santoso]</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gedepangrango.org/jelajah-pangrango-di-musim-puspa-4/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
