Taman Nasional Gunung Gede Pangrango [National Park]

The Oldest Tropical Mountain Rain Forest of Java

Depan » Artikel » SAAR, anak owa yang mencari jati diri


SAAR, anak owa yang mencari jati diri

10.11.08Hits 2.306 views|ArtikelCetak

Di alam, Owa jawa tersebar di seluruh hutan di Provinsi Banten, Jawa Barat hingga perbatasan Jawa Tengah di Gunung Slamet. Sebagai satwa yang dilindungi undang-undang, owa jawa tidak bisa dengan mudah dipelihara oleh masyarakat umum sebagai binatang piaraan. Tentu saja ada persyaratan khusus yang mengaturnya apabila hendak dipelihara di luar hutan yang menjadi habitatnya. Paling tidak ada dua alasan yang cukup mendasar kenapa Owa jawa, termasuk satwa liar lainnya, dilarang untuk dipelihara di luar habitatnya tanpa ijin dari pihak berwajib.

Pertama, sebagai satwa liar, owa jawa pastilah memiliki peranan dan fungsi yang cukup penting dalam kesatuan ekosistem di mana mereka hidup dan berkembang biak. Owa jawa merupakan bagian dari rantai makanan dan jaring-jaring kehidupan dalam ekosistem hutan yang rumit tersebut. Salah satu peranan yang sudah kita ketahui adalah sebagai penyebar biji buah-buahan yang dimakannya. Tanpa disengaja, biji-biji tersebut akan jatuh ke lantai hutan dan tumbuh sebagai pohon-pohon hutan. Tanpa bantuan manusia, proses tersebut pun tetap akan terjadi, selama keberadaan owa jawa, primata lain dan satwa pemakan buah lainnya tetap ada di dalam hutan. [baca selengkapnya: Reboisasi Gratis Oleh Primata]

Alasan kedua adalah kemungkinan terjadinya penularan penyakit antara manusia dan owa maupun primata lainnya yang disebut sebagai zoonosis. Berdasarkan informasi dan penelitian, beberapa penyakit bisa diderita baik manusia maupun owa, karena sama-sama termasuk primata, antara lain adalah TBC, hepatitis dan jenis penyakit lainnya. Jadi sangatlah riskan apabila owa dan jenis primata lainnya dipelihara di luar habitatnya tanpa mengindahkan kaidah dan kemungkinan akibat yang akan terjadi. Untuk tujuan pemeliharaan di kebun binatang pun mestinya tetap mempertimbangkan beberapa hal tersebut. Kontak antara pengunjung dan satwa primata secara langsung sebaiknya dihindari, termasuk memberi pakan oleh pengunjung dan berfoto bersama primata, misalnya bersama anak orangutan yang ”lucu”. Pengelola kebun binatang dapat menjamin kesehatan satwa peliharaannya tetap sehat dengan pengecekan kesehatan secara rutin, demikian juga kesehatan perawat satwanya. Namun akan lebih sulit memastikan orang yang berkunjung terbebas dari penyakit misalnya TBC dan Hepatitis tadi. Jangan sampai tujuan berekreasi malah mengakibatkan anak tersayang tertular penyakit?

Dengan ”menculik” owa dari hutan, tanpa disadari kita telah mengganggu keseimbangan dan kearifan alam. Kunjungan ke kebun binatang, selain sebagai rekreasi mestinya juga merupakan langkah untuk mengenalkan anak-anak dan juga kita terhadap hal tersebut. Mencintai mereka bukan berarti dengan memiliki dan memeliharanya di rumah, ataupun berfoto bersama. Akan lebih arif apabila kita bisa menanamkan pemahaman dan pengertian yang tepat, bahwa satwa liar, termasuk owa jawa lebih baik tetap hidup di rumahnya di alam. Kewajiban dan bukti kecintaan yang tepatlah dengan ikut berperan dalam menjaga kelestarian hutan, habitat aslinya.

Jangan sampai rumah mereka yang saat ini tersisa di kantong-kantong hutan yang ada di Jawa Barat, Banten hingga perbatasan Jawa Tengah akan rusak dirambah hanya untuk kepentingan manusia semata. Manusia adalah makhluk paling berbudi dan khalifah di alam ini, sudah sepantasnyalah untuk tidak hanya berpikir untuk kepentingan manusia sendiri. Bahwa kita mesti hidup harmoni bersama alam dan lingkungannya, tentu saja bila kita masih mau berfikir menggunakan nalar, untuk tidak mempercepat terjadinya armagedon, pemusnahan massal.

[teksKus | gambarIAR-Indonesia © TNGGP 072008 ]

Halaman: 1 2 3