Image Alt

Blog

Pembinaan Habitat Owa Jawa di TNGGP

[Kuliah Primata 21 Juli 2007 | Pusat Primata Schmutzer – TMR | Novianto Bambang W | TN Gunung Gede Pangrango – PHKA Dephut]
Di kalangan pengamat primata, Owa Jawa (Hylobates moloch) merupakan lambang kesetiaan pasangan yang sangat menarik. Pada saat ini, primata ini ditemukan hanya di Pulau Jawa bagian barat.
Setelah bulan Juni Kuliah Primata membahas mengenai populasi Owa Jawa yang berada di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, pada Kuliah Primata Juli 2007 ini dibahas mengenai pembinaan habitat Owa Jawa yang terdapat di Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango [TNGP] dengan pembicara Kepala Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Novianto Bambang.

Sebelum presentasi mengenai Owa Jawa dimulai Novianto memberikan gambaran mengenai TNGGP, dengan pemutaran film mengenai Owa Jawa di TNGGP.
TNGGP merupakan salah satu taman nasional tertua di Indonesia dan saat ini merupakan salah satu Taman Nasional Model. Sejak jaman penjajahan Hindia Belanda kawasan Gunung Gede-Pangrango sudah dilindungi. Taman nasional yang berada di tiga kabupaten ini, yaitu Cianjur, Sukabumi, dan Bogor mempunyai fungsi yang sangat penting, tidak hanya berfungsi menjaga keberadaan hewan dan tumbuhan yang berada dalam kawasan tererbut tetapi juga berfungsi sebagai daerah penyangga kehidupan bagi kota-kota yang berada di sekitarnya seperti Bogor, Sukabumi, Cianjur dan Jakarta. Taman nasional yang memiliki luas 21.975 hektar ini merupakan sumber air bagi banyak sungai yang mengalir di Bogor, Jakarta dan sekitarnya.

Owa jawa adalah satwa yang dilindungi sejak tahun 1931. Saat ini di habitat alami kera berwarna abu-abu ini telah terfragmentasi. Karena itu diperlukan penyelamatan habitat asli Owa Jawa yang masih tersisa, antara lain Gunung Gede Pangrango, Gunung Halimun – Salak, Ujung Kulon dan daerah sekitarnya yang masih memiliki hutan.
Di Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dilakukan pembinaan habitat yang mendukung kehidupan Owa Jawa. Sebelum adanya pembinaan habitat diperlukan studi pendahuluan mengenai populasi, penyebaran, pergerakan kelompok populasi Owa Jawa, serta perubahan vegetasi.
Beberapa teknik pembinaan habitat Owa Jawa yang dilakukan di TNGGP adalah pengkayaan pohon pakan dan pohon tidur, pengendalian spesies asing berbahaya, seleksi jenis-jenis tumbuhan pionir, antisipasi bencana alam dan kebakaran hutan, serta pengamanan habitat.

Pengkayaan pohon pakan dan pohon tidur dilakukan di hutan sekunder yang berada dalam kawasan taman nasional dengan cara menanam jenis tumbuhan asli setempat serta digunakan oleh Owa Jawa di daerah tersebut. Di TNGP terdapat sekitar 30 jenis tumbuhan asing berbahaya yang dapat berkembang biak dengan cepat di hutan. Salah satu tumbuhan yang merupakan tumbuhan asing namun dimanfaatkan oleh Owa Jawa adalah pohon afrika. Cara pengendalian yang dilakukan saat ini adalah mengambil anakan dari pohon tersebut dengan harapan tidak akan berkembang biak dan menyebar. Sedangkan salah satu antispasi kebakaran adalah dengan mencegah perbuatan manusia untuk membakar hutan. Pengamanan rutin dilakukan dengan patroli di sekitar batas kawasan TNGP untuk mencegah pengambilan hasil hutan dan perburuan.
Di kawasan TNGGP terdapat Stasiun Penelitian Bodogol (SPB) serta Javan Gibbon Center (JGC). Sesuai dengan namanya SPB merupakan tempat peneliti-peneliti yang melakukan penelitian di TNGGP, ratusan penelitian mengenai sumberdaya alam hayati sudah dilakukan di sini. JGC adalah tempat Owa Jawa direhabilitasi untuk dikembalikan ke hutan, rumah mereka. Owa Jawa di JGC berasal dari penyerahan dan penyitaan dari masyarakat oleh Departemen Kehutanan, karena Owa Jawa adalah satwa dilindungi dan tidak boleh dijadikan peliharaan. Durasi rehabilitasi serta adaptasi Owa Jawa yang terdapat di JGC tergantung dari satwa tersebut. Terdapat 15 ekor Owa Jawa di JGC, dan sudah satu ekor dikembalikan ke hutan.

Sosialisasi dan kampanye lingkungan perlu dilakukan kepada masyarakat, tidak hanya masyarakat sekitar tetapi juga masyarakat yang berada jauh dari daerah taman nasional.

Lalu apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat sekitar TNGGP atau Jakarta untuk membantu menyelamatkan habitat Owa Jawa? TNGGP mempunyai program bagi relawan yang ingin menyumbangkan tenaga dan pikiran bagi habitat Owa jawa di sana. Kalu hutan di TNGP rusak dan habis karena adanya penebangan liar, bukan hanya Owa Jawa yang kehilangan tempat tinggal, bahkan bencana banjir pun akan melanda Jakarta dan kota sekitarnya. Jadi, jangan menunggu sampai banjir datang ke Jakarta.
Mulai saat ini, mulai dari diri kita sendiri untuk tidak membeli Owa Jawa di pasar hewan dan tidak memeliharanya di rumah. [Febri & Rani | KeRa]
[Sumber: www.orangutan.or.id & http://educationschmutzer.multiply.com | Word & Pictures © BOS Foundation | 072007]


NB :
Anda yang berminat mendapatkan file digital dari foto kegiatan dapat download dari:
http://sobatorangutan.multiply.com/photos/album/5

File presentasi dalam format PDF dapat download dari:
http://groups.yahoo.com/group/Sobat_Orangutan/files

atau hubungi:
Bagian Edukasi & Komunikasi Pusat Primata Schmutzer – TM Ragunan
[021] 7884 7105 | education_schmutzer@yahoo.com | www.primata.or.id

Biro Komunikasi Yayasan BOS
[0251] 657067 | bos_komunikasi@orangutan.or.id | www.orangutan.or.id

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit sed.

Follow us on