Image Alt

Blog

“Manusia Ekologi” vs “Manusia Ekonomi”?

Pemahaman yang kurang tepat

poster Hari BumiPada suatu kesempatan diskusi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi terkenal di Bogor, tersebutlah dalam kata sambutan dari seorang ahli setempat yang mengatakan bahwa “Kita manusia yang tinggal di kota adalah manusia ekonomi, berbagai hal dinilai dengan uang”. Disebutkan pula bahwa “Jauh dari kota, di suatu tempat pinggiran hutan biasanya manusia di sana adalah manusia ekologi, mereka sejak dulu sudah memanfaatkan sumberdaya alam yang ada di sekitarnya secara langsung, Sehingga hal tersebut adalah normal, dan tidak perlu dilarang. Misalnya masyarakat lokal yang masih mengkonsumsi satwa liar tertentu, seperti Yaki. Itu adalah alami, tidak perlu dilarang. Biarkanlah mereka berkembang sebagai manusia ekologi”.

Apakah pernyataan tersebut tepat dan arif?
Jawabannya adalah relatif, namun secara umum bisa dikatakan kurang tepat. Kita setuju pernyataan bahwa masyarakat tradisional, pada umumnya masih memiliki berhubungan yang kuat dalam pemanfaatan hutan dan sumberdaya alam lainnya. Mereka umumnya memiliki norma adat atau kearifan tradisional yang mereka yakini. Hal tersebut memang hak mereka, dan tetap mempertimbangkan keseimbangan alam adalah catatan utamanya.

Prinsip keseimbangan “ekonomi” dan “ekologi”: sebuah dinamika

Ketika kita membicarakan fenomena ekologi, yang di dalamnya ada keseimbangan alami dari semua komponen ekosistem yang ada di dalamnya, maka kurang tepat untuk melihat ekonomi dan ekologi dari sudut yang berlawanan. Justru sudut pandang harus kita ubah, kita harus lihat bahwa manusia, sebagai makhluk beradab dan mengklaim memiliki kecerdasan paling tinggi di antara makhluk lainnya, maka ketika memanfaatkan sumberdaya alam atau dengan kata lain sebagai manusia ekonomi, tetap juga tetap mempertimbangkan keseimbangan ekologi. Perlu diingat, bahwa keseimbangan ekologi juga bergeser dengan berjalannya waktu. Mungkin pernyataan bahwa suatu kelompok masyarakat yang mengkonsumsi Yaki itu adalah manusia ekologi yang tidak perlu dilarang, adalah tepat pada waktu populasi manusia di tempat tersebut masih belum terlalu besar, sumberdaya alam masih cukup melimpah, populasi Yaki pun bisa seimbang kembali. Pernyataan menjadi kurang tepat ketika hal tersebut terjadi pada saat ini, dimana pemanfaatann sumberdaya alam terjadi secara berlebihan. Kemampuan alam untuk merespon kepada kondisi yang seimbang juga terbatas, demikian pula pemulihan populasi Yaki secara alami. Pada tataran ini, mereka sudah tidak berbeda dengan yang dimaksud sebagai manusia ekonomi. Yang berbeda hanyalah tempat di mana proses tersebut berlangsung. Konsep mereka sebagai manusia ekologi sudah bergeser.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit sed.

Follow us on