Image Alt

Blog

“Manusia Ekologi” vs “Manusia Ekonomi”?

Lalu apa yang terjadi? Justru itulah, sebenarnya tidak bisa dipisahkan antara konsep ekologi dan ekonomi. Kita sebagai manusia adalah sekaligus berperan sebagai keduanya, sebagai manusia ekonomi dan ekologi. Oleh karena itu, kalau dilihat dari prinsip pemanfaatan sumberdaya alam yang berkelanjutan, maka dirasa perlu ada pendekatan baru dalam pemanfaatan tersebut, di samping norma-norma yang ada. Keseimbangan ekosistem tetap harus dipertahankan.

Kalau pun manusia harus mengkonsumsi daging, kalau bisa dari jenis yang bisa dibudidayakan kenapa tidak? Kenapa harus memburu satwaliar? Apalagi jenis tersebut sudah termasuk jenis dilindungi Undang-undang oleh Pemerintah RI. Termasuk juga keperluan “tengkorak” Yaki untuk upacara adat, haruskah tengkorak yang asli dari hasil berburu di alam? Atau barangkali bisa dibuat tengkorak imitasi dari bahan resin?

Belum lagi masalah potensi penularan penyakit dengan mengkonsumsi daging satwaliar dari alam, adalah hal lain yang perlu dipertimbangkan.

Hakekat pemahaman keseimbangan alam dan fitrah manusia sebagai khalifah

Hal-hal tersebut bukankah berarti membatasi pemanfaatan sumberdaya alam? Bukannya kita diperbolehkan memanfaatkan alam ini?

Benar, kita tidak bisa hidup tanpa memanfaatkan sumberdaya alam yang ada. Namun sekali lagi, kita sebagai makhluk berbudaya yang dikaruniai akal dan fikiran, akan lebih arif dan bijaksana apabila kita juga memperhatikan kesinambungan dalam pemanfaatan. Bahasa kerennya ikut berpartisipasi dalam konservasi, karena hakekat konservasi bukan hanya melindungi tetapi juga memanfaatkan dengan prinsip kelestarian.

Adalah menarik ketika ada pertanyaan, “Mengapa kita mesti mendiskusikan tentang perlunya perlindungan satwaliar? Bukannya sudah cukup kepada alasan tentang hak hidup semua satwa dan bahwa manusia diperintahkan Tuhan untuk tidak membunuh segala makhluk yang hidup?”

Kembali, kita diuji tentang pertanyaan mendasar, dan tidak bisa lagi dibicarakan tentang manusia ekologi dan manusia ekonomi. Namun demikian ternyata manusia memang sangat unik. Bahkan untuk sesuatu yang sudah jelas digariskan dalam perintah Penciptanya pun, kenyataannya masih terjadi kerusakan akibat ekploitasi sumberdaya alam yang berlebihan.

Ada beberapa pendekatan yang harus kita fahami ketika kita sebagai manusia melakukan hubungan dengan manusia lainnya. Perlu pula disadari bahwa tingkat kepekaan dan pemahaman masing-masing kita sebagai manusia pun cukup beragam. Apalagi di jaman informasi global seperti saat ini, berbagai macam informasi seperti berlomba “menghantam” masyarakat, baik itu informasi yang bersifat positif maupun negatif. Sepertinya, kalau masyarakat tidak dibantu dengan berbagai informasi yang berfungsi untuk menyaring arus informasi yang cukup deras tadi, maka “kerusakan global” juga akan semakin cepat terjadi.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit sed.

Follow us on