Image Alt

Blog

Puspa Untuk Hutan Sahabat Green

hutan sahabat green-1Mesti ekstra hati-hati menuruni lereng-lereng curam itu. Dengan dua tangan mendekap beberapa polybag bibit pohon puspa, tidak sedikit yang terperosok dan melorot tak terkendali. Medan terjal dan rawan longsor itu benar-benar menantang.

Patok-patok bambu yang ditempeli label A, B, C, D sudah disiapkan para petani. Jarak antar patok sekitar 5 meter. Kami mesti menjangkau patok-patok itu untuk menanam bibit-bibit pohon yang dilabeli sesuai nama pengadopsinya. Tidak mudah mencapainya, karena lereng yang dulunya ditumbuhi pepohonan besar itu sudah berubah menjadi lahan bertanam sayur-mayur. Kering, sangat miring dan mudah longsor.

Polybag bibit pohon kami buka perlahan dan diletakkan di lubang yang sudah disediakan kira-kira seukuran gelas besar. Menimbunnya dan berharap bibit pohon itu tumbuh besar menghutan lebat. Sebuah upaya yang butuh ketekunan terus-menerus mulai saat ini hingga bertahun tahun mendatang. Bukan langkah sekali jadi. Puspa yang ditanam pagi ini, bisa berumur ratusan tahun. Kalau subur, tingginya dapat mencapai 60 meter. Pada musimnya, puspa mengeluarkan bunga putih. Harum sekali.

hutan sahabat green-2Acara penanaman tahap pertama Hutan Sahabat Green (HSG) dilakukan 8 Juli, dan dimulai pukul 10. Diawali penyerahan secara simbolis bibit pohon oleh Bambang Sukmananto, Kepala Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango (TN GGP) kepada perwakilan PT FIF. Selain tentunya kata sambutan dari perwakilan pengadopsi dan TN GGP, Green Radio, dan penandatangan plakat bersama antara Green Radio dan TNGGP.

Beberapa peserta acara penanaman pohon Hutan Sahabat Green (HSG) berasal dari individu maupun perwakilan sejumlah institusi pengadopsi pohon. Pak Widjanarko misalnya, membawa serta keluarganya untuk ikut menghutankan kembali HSG. Lelaki setengah baya itu tampak tak ragu-ragu membiarkan istrinya ikut menelusuri lereng-bergelut dalam debu bersama dua anaknya.

hutan sahabat green-3Goenawan Mohamad, Komisaris Green Radio, juga tampak. Ia mengajak serta Nadia Djohan, sahabat kecilnya yang baru genap 13 tahun. ”I’m scared…I’m scared!” seru Nadia saat berusaha menuruni lereng curam berdebu itu. Tapi, gadis remaja itu tampak sangat ceria. Karena itulah pengalaman pertamanya menanam pohon di lereng gunung terjal dan panas terik. Nadia mengadopsi 10 pohon.

Hadir juga Direktur Marketing & Administration SKF Bono Rumbiono mewakili PT SKF. Ia menyebutkan aksi SKF mengadopsi pohon adalah wujud pertanggungjawaban perusahaannya yang dalam beroperasi telah menghasilkan karbon dan memakai kertas.

”Kami ingin mengganti produksi karbon dan penggunaan kertas kami dengan menanam kembali 270 pohon yang bisa menyerap karbon dan menggantikan pohon-pohon yang ditebang untuk kertas-kertas yang kami gunakan setiap tahun,” serunya. Pada kenyataannya, PT SKF mengadopsi 400 pohon.

hutan sahabat green-4”Jadi nanam pohonnya setiap tahun ya, Pak!” sahut Bambang Sukmananto, Kepala Balai TN GGP, disambut tawa dan tepuk tangan hadirin yang makin bersemangat.

Adi Susmianto, dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan yang hadir mewakili para pengadopsi sekilas mengulas balik penyebab kerusakan hutan di kawasan TNGGP itu. Menurut dia, lereng seterjal ini sebetulnya memang tak boleh untuk hutan produksi. ”Dulu salah manajemen,” katanya mengingat kebijakan Perhutani yang tahun 80-an menanami Eucalyptus di sana.

Kini, petani memanfaatkan lahan itu untuk bertanam sayur secara tumpang sari. Ini menjadikan struktur tanah yang umumnya lereng ini menjadi labil dan rawan longsor. Inilah yang menjadi tantangan bagi pengelola HSG, untuk mencari solusi mata pencaharian 43 keluarga yang sekarang bergantung di sana.

hutan sahabat green-5Tetapi, kawasan hutan konservasi di Jawa Barat yang hanya 5 persen dari areal Jawa Barat, memang tidak mungkin dibiarkan dirambah atas nama peningkatan kesejahteraan rakyat. ”Tidak mungkin kita menyerahkan 5 persen kawasan hutan untuk difungsikan diluar tujuan konservasi. Karena kalaupun itu kita serahkan tidak mungkin bisa menyejahterakan rakyat,” kata Bambang Sukmananto.

Kepala Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Bambang Sukmananto dan Direktur Utama Green Radio Santoso senada meyakini bahwa penghutanan kembali wilayah konservasi HSG hanya bisa berhasil jika tetap melibatkan masyarakat petani untuk merawat dan menyadari pentingnya keberadaan hutan di wilayah itu. ”Dana adopsi pohon tidak serta merta diberikan langsung kepada para petani penggarap, tapi akan digunakan untuk mengupayakan satu alternatif baru pekerjaan diluar pertanian yang tidak merugikan kelestarian alam”, ujar Bambang.

hutan sahabat green-6Acara ditutup pukul 2 siang dengan acara makan siang diselingi games konsentrasi ala petugas TNGGP. Seru. Menjelang pulang para peserta dibekali oleh-oleh sayur-mayur segar dari para petani. Walaupun ekonominya sulit, petani kita tetap saja mau membagi panennya kepada para tamu.

Kami berjalan pulang menyusuri jalan bedebu menuju pos terdekat, tempat parkir kendaraan patroli TNGGP yang menunggu kami. Debu-debu menggumpal di belakang mobil, kami kembali menuju Kantor Wilayah Bidang I TNGGP. Penanaman Hutan Sahabat Green tahap pertama sudah dilakukan hari ini. Kami tak ingin menunggu terlalu lama untuk melanjutkan upaya menghutankan kembali 10 hektar kawasan itu bersama Sahabat Green. Kita perlu 4.000 pohon untuk diadopsi. Salam Green!

>> Selengkapnya

Sumber: www.greenradio.fm | 10 Juli 2008

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit sed.

Follow us on