Image Alt

Blog

Suaka Elang Alternatif Kemitraan Konservasi Indonesia

Press Release

Bogor, 25 November 2008- Kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun-Salak [TNGHS] dengan luas 113.357 ha merupakan representasi ekosistem hutan hujan tropis pegunungan di Pulau Jawa. Kawasan ini menjadi habitat terbaik untuk 16 jenis burung pemangsa [Elang], diantaranya Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) khas Jawa yang berkategori Endangered [IUCN Red List 2008]. Artinya, populasi Elang jawa kurang dari lima ribu ekor, bahkan, hanya berkisar empat ratus ekor saja.

Namun begitu, ancaman degradasi lahan hutan, seperti penebangan liar, perambahan dan penambangan liar, dan perubahan fungsi lahan, mengintai kawasan ini, “Saat ini degradasi hutan di pulau Jawa sudah mencapai 1,3%, dan habitat terbaik bagi spesies tersebut ada di hutan alam yang hanya terdapat di kawasan Taman Nasional,” jelas Bambang Supriyanto kepala Balai TNGHS. Aspek sosial-ekonomi, rendahnya kesadaran masyarakat atas konservasi maupun penyalahgunaan sumber daya alam karena belum optimalnya tata ruang menjadi pendorong meningkatnya degradasi hutan.

Menyikapi hal itu, salah satunya, dibentuk jaringan kemitraan berbagai pihak dalam Pembangunan ”SUAKA ELANG”, yang disepakati pada tanggal 21 November 2007. Jaringan Suaka Elang yang terdiri dari Balai TNGHS, Balai Besar TN Gede Pangrango [TNGGP], Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga [PPS Cikananga], International Animal Rescue Indonesia [IAR], Raptor Conservation Society [RCS], Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia [LIPI], Pusat Penelitian Pengembangan Kehutanan & Konservasi Alam, PT. Chevron Geothermal Salak, Pusat Informasi Lingkungan Indonesia [PILI-Green Network], Raptor Indonesia [RAIN], Mata ELANG dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam [BKSDA] Jawa Barat.

“Selain melakukan penyelamatan, suaka dan pelepasliaran raptor, jaringan ini juga memiliki misi penyadartahuan masyarakat tentang keberadaan biodiversitas, khususnya di kawasan TNGHS. Jaringan ini juga menjadi gerbang pelestarian habitat melalui aktivitas mitra dan masyarakat,” ungkap Pam E. Minnigh, direktur PILI-Green Network.

SUAKA ELANG juga untuk mendukung balai TNGHS dalam upaya konservasi raptor dan habitatnya secara lebih komprehensif. Ke depan, kemitraan ini diharapkan menjadi salah satu model pengelolaan kolaboratif di sebuah kawasan konservasi khususnya Taman Nasional. “Juga akan dikembangkan kegiatan konservasi keragaman hayati berbasis masyarakat melalui: pendirian plot-plot monitoring untuk memantau dinamika spesies raptor, riset serta pendidikan lingkungan di sekitar TNGHS,” tambah Adam Supriatna koordinator RAIN.

Terkait dengan hal itu, kegiatan peresmian Suaka Elang yang didahului dengan talkshow mengenai kawasan konservasi, penegakan hukum satwa, kemitraan suaka elang dan penanganan satwa di suaka elang menjadi sebuah agenda penting untuk membuka jalan model alternatif untuk konservasi Elang.

Kegiatan ini akan diselengggarakan pada hari Selasa, 25 November 2008. Adapun kegiatan evakuasi elang atau proses perpindahan satwa dari pusat penyelamatan satwa ke suaka elang dilakukan sebelum acara peresmian yaitu tanggal 22 November 2008.

Kontak Media:

Sekretariat Jaringan Suaka Elang
Pusat Informasi Lingkungan Indonesia (PILI-Green Network)
Jl. Tumenggung Wiradiredja, No. 216, Cimahpar, Bogor
Tel./ 0251 8657002, Fax. 0251 8657171
Contact person: Evi Indraswati , HP: 0815 681 1935, E-mail: ikiepoy@gmail.com

Post a Comment

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit sed.

Follow us on