Image Alt

Blog

Tantangan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango [TNGGP] di Masa Lalu, Masa Kini dan Masa Depan

Dalam rangkaian peringatan ulang tahun TNGGP yang ke 29 tahun digelar pula talkshow yang dihadiri oleh berbagai pihak terkait dan masyarakat, serta para Kepala Balai Purnawira periode 1980-2009.  Hadir sebagai narasumber dalam talkshow ini adalah Dr. Ir. Haryadi, MBA, MM-Sekditjen PHKA.,  Dr. Ir. Sunaryo, MSc-senior TNGGP, Ir. Sumarto MM-Kepala Balai Besar TNGGP dan Ir. Haris Surono, MMSinar Mas Forestry.  Sebagai moderator adalah Dr. Achmad Sjarmidi dari Konsorsium GEDEPAHALA.

“ TNGGP mempunyai peran penting sebagai penyangga kehidupan khususnya sebagai ketersediaaan air dan sistem penyangga kehidupan, selain itu kontribusinya sangat dirasakan oleh nasional dan regional,” komentar Pak Haryadi.

“Diibaratkan TNGGP merupakan pulau di antara lautan manusia dan pemukiman, dimana masyarakat masih memiliki ketergantungan yang kuat terhadap TNGGP.  Untuk mengkombinasikan kepentingan antara TNGGP dan masyarakat memerlukan suatu formula agar tidak ada pihak yang dirugikan. Seperti salah satu unsur yang harus diperhatikan dalam pengembangan kebijakan antara kepentingan masyarakat dan TNGGP adalah isyu yang tengah hangat saat ini yaitu climate change.  Ini penting agar dalam penyusunan strategi pengelolaan TNGGP tidak ada pihak yang merasa dirugikan,” lanjut Pak Suraryo.

Pendapat yang tak kalah menarik adalah dari Pak Haris, ”sebagai sektor swasta, Sinar Mas Forestry tidak hanya bergerak dalam bidang ekonomi saja namun juga bergerak di bidang konservasi. Hingga saat ini, di Indonesia terdapat 6 cagar biosfer, salah satu di antaranya adalah Cagar Biosfer Cibodas yang ditetapkan oleh UNESCO sejak tahun 1977 di mana kawasan TNGGP sebagai zona inti dari cagar biosfer ini. Menariknya di dalam konsep cagar biosfer ini adalah merupakan jawaban dari permasalahan yang dihadapi dalam mensinergikan pengelolaan kawasan konservasi dengan kemanfaatannya bagi masyarakat sekitar serta pengelolaan administrasi Pemerintah Daerah setempat yang kawasannya termasuk dalam zona penyangga dan zona transisi cagar biosfer.  Karena dalam pengelolaan cagar biofer ini melibatkan multistakeholder dan melalui pendekatan manajemen lansekap.  Dalam waktu dekat ini tepatnya pada bulan Mei tahun 2009 direncanakan akan diresmikan cagar biofer Giam Siak-Bukit Batu di Provinsi Riau.”

bb

Pak Sumarto berpendapat,“ TNGGP sudah dikenal di level nasional dan internasional, hal tersebut merupakan modal dasar dalam pengembangan straegi pengelolaan berbasis kemitraan. Sedangkan mengenai fungsi ekosistem TNGGP sebagai kesatuan ekosistem di luarnya, fungsi TNGGP sudah melaksanakan fungsinya secara optimal.  Apabila ada banjir di hilir bukan salah dari TNGGP, melainkan pengelolaan air sungai di tengah dan hilir yang harus juga dibenahi. Konsep TNGGP saat ini adalah pengembangan daerah penyangga dengan pemanfaatan potensi yang ada sebagai contoh: Pembuatan Mikrohidro, kebun organik dan lainnya.  Ini sangat penting untuk mengurangi tekanan masyarakat secara langsung ke dalam kawasan hutan yang bisa merusak.  Kami juga bertekad menjadikan momentum ulang tahun ke 29 ini sebagai pemicu untuk mewujudkan TNGGP menjadi pusat pendidikan konservasi terbesar di Asia Tenggara.”

Dalam kesempatan diskusi yang cukup seru serta disiarkan secara langsung oleh Green Radion 89,2 FM bisa ditarik benang merahnya yaitu selama dalam perjalanannya, tantangan TNGGP semakin hari semakin besar sehingga diperlukan konsep pengelolaan kawasan yang bisa mengikuti perkembangan yang ada dan membantu menyelesaikan permasalahan.  Konsep pengelolaan cagar biosfer merupakan jawaban yang tepat karena dalam pelaksanaannya melibatkan berbagai pihak yang saling terkait termasuk masyarakat dan Pemerintah Daerah setempat.

Cagar Biosfer Cibodas telah berumur 31 tahun, lebih tua dari usia TNGGP.  Dengan semangat ulang tahun ke 29 ini diharapkan akan membangunkan kesadaran kita bahwa konservasi adalah sikap-pola pikir-perilaku yang harus menjadi bagian dalam keseharian kita, untuk menyelamatkan lingkungan, menyelamatkan bumi dan menyelamatkan manusia itu sendiri.  Konservasi bukanlah hal eksklusif milik pihak tertentu, namun milik semua makhluk di muka bumi ini.

[teks & photo © TNGGP 032009 | ade bagja – kus]

Post a Comment

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit sed.

Follow us on