Image Alt

Blog

METT (Management Effectiveness Tracking Tool) di TNGGP

Pada tanggal 7 Mei 2009 di Villa Inkarla, Cibodas, Balai Besar TN. Gunung Gede Pangrango melakukan suatu kegiatan penilaian (assessment) dalam rangka menilai sejauh mana pengelola kawasan telah secara efektif dikelola sejalan dengan visi, misi dan tujuan pengelolaan yang telah ditetapkan pada saat kawasan ini ditunjuk.  Melaksanakan penilaian (assessment) terhadap efektivitas pengelolaan, merupakan amanah yang tercantum dalam Convention of Biological Diversity (CBD) on Protected Areas, yang mempunyai target bahwa tahun 2010 sekurang-kurangnya 30 % dari Kawasan Konservasi di suatu negara sudah dilakukan penilaian efektivitas pengelolaan.

Workshop ini dihadiri oleh kurang lebih 30 peserta yang terdiri dari instansi pemerintah dan LSM, diantaranya Kepala Sub Direktorat Kawasan Pelestarian dan Suaka Alam (Kasubdit KPA-SA), PT. Hatfield, dan seluruh pejabat struktural TNGGP. Workshop ini difasilitasi oleh WWF (World Wildlife Foundation) Indonesia.  Seluruh peserta bersama-sama menjawab pertanyaan untuk menentukan tingkat efektivitas pengelolaan TNGGP.

Instrumen/alat penilaian yang digunakan adalah METT (Management Effectiveness Tracking Tool).  METT telah diimplementasikan di lebih dari 900 (Sembilan ratus) site kawasan konservasi di luar negeri.  METT dipilih karena metoda ini dibuat untuk menilai kawasan konservasi pada level site/lokal/lapangan, sehingga memungkinkan staf/petugas dari suatu kawasan konservasi menjawab pertanyaan-pertanyaan pada METT. Hal ini disebabkan METT dibuat sedemikian rupa sehingga mudah untuk diaplikasikan dan dijawab oleh para pengelola kawasan, tanpa perlu melakukan tambahan penelitian khusus.

Format pertanyaan pada METT terdiri dari 2 bagian. Bagian 1 terdiri dari 2 data yaitu Lembar Data 1 berisi detil penilaian dan informasi dasar tentang kawasan seperti nama, luas, dan lokasi kawasan, dan pertanyaan melihat tingkat ancaman terhadap kawasan. Lembar data 2 merupakan daftar generik jenis-jenis ancaman yang dihadapi oleh kawasan.  Pada lembar ini, penilai diminta untuk mengidentifikasi ancaman dan tingkat dampainya terhadap kawasan konservasi.

Sedangkan bagian 2 terdiri dari 33 pertanyaan yang menggambarkan 6 elemen pengelolaan (konteks, perencanaan dan desain kawasan, input, process, output, dan outcome).  Pertanyaan pada bagian 2 ini kemudian diintegrasikan dengan tujuan pengelolaan, untuk melihat sejauhmana pertanyaan tersebut dapat menjawab 7 (tujuh) pengelolaan.  Pertanyaan pada bagian 2 menggunakan skor sederhana antara 0 (buruk) hingga 3 (sangat baik).  Bila ada pertanyaan yang tidak relevan dengan kawasan TNGGP, maka pertanyaan tersebut diabaikan.  Total skor adalah 99.

HASIL PENILAIAN

Untuk mendapatkan hasil, jawaban pertanyaan tentang ancaman dan indikator efektivitas direkapitulasi dan diolah oleh fasilitator dari WWF Indonesia.  Hasil penilaian adalah sebagai berikut:

A.    Ancaman terhadap Kawasan Konservasi

Dari 12 pertanyaan tentang Ancaman terhadap Kawasan Konservasi, diperoleh hasil sebagai berikut:
1.    Jenis ancaman yang utama / tinggi terhadap pengelolaan kawasan TNGGP adalah:
o    kegiatan rekreasi dan wisata;
o    vandalisme, kegiatan merusak kawasan lindung;
o    sampah dan sampah padat;
o    kehilangan species keystone (cth: predator puncak, penyerbuk, dll)
o    Tanaman invasif non-native/asing;
o    Gunung berapi.

2.    Jenis ancaman sedang adalah:
o     pengumpulan/pengambilan tumbuhan dan produk tumbuhan (non-kayu);
o    bendungan dan modifikasi hidrologis serta pemanfaatan/pengelolaan air;
o    “Efek penting” lain (Add effects) terhadap nilai-nilai kawasan.

3.    Jenis ancaman rendah antara lain:
o    Perburuan, pembunuhan, dan pengambilan satwa (termasuk konflik satwa dan manusia);
o    Pembalakan dan pemanenan kayu;
o    Kegiatan penelitian, pendidikan & Kegiatan terkait pekerjaan lain di kaw. Lindung;
o    Api dan penan api;
o    Pembuangan dari kegiatan pertanian dan kehutanan (pupuk dan pestisida berlebihan);
o    Erosi dan pengendapan tanah;
o    Kekeringan.

B.    Efektivitas Pengelolaan

Dari 33 pertanyaan untuk indikator pengelolaan efektif pada bagian 2, ada 1 pertanyaan yang dianggap tidak relevan, yaitu pertanyaan yang berkaitan dengan masyarakat asli/adat (Indigenous people), sehingga pertanyaan ini diabaikan.  Sehingga total skor bukan 99, tetapi 96.

Dari hasil penilaian, diperoleh bahwa total skor penilaian efektifitas pengelolaan kawasan TNGGP adalah 73,5 dari maksimum skor 96 atau 76 %.  Nilai ini menunjukkan bahwa TNGGP relatif dikelola dengan efektif (relative well-managed).

Diperoleh bahwa pengelolaan di TNGGP telah efektif dalam kategori Rencana Pengelolaan, Partisipasi Masyarakat Lokal dalam Pengelolaan.  Hal ini ditunjukkan dengan tingginya skor dari 2 kelompok terhadap ketersediaan Proses perencanaan, ketersediaan rencana jangka panjang, menengah, dan rencana regular, termasuk adanya proses review yang periodik terhadap rencana pengelolaan. Tabel 4 menunjukkan hasil / grafik efektivitas pengelolaan.

Dari hasil diskusi, bahwa langkah tindak lanjut untuk mengatasi ancaman gempa bumi, maka perlu dikembangkan sistem peringatan dini di TNGGP (Early Warning System), pembuatan jalur evakuasi, penentuan daerah aman, pembuatan kanal/saluran untuk lava.  Koordinasi dengan Direktorat Vulkanologi harus dilakukan untuk antisipasi ancaman dimaksud.

Hasil dari METT juga dapat digunakan untuk membantu dalam meningkatkan kinerja pengelola dengan pendekatan adaptive management, serta mengalokasi sumber daya sesuai isu-isu yang terdapat pada hasil METT.

Dr. Samedi (Narasumber) mengatakan bahwa hasil dari METT ini dapat digunakan sebagai starting point atau base line data dan bukan acuan utama untuk melakukan review Rencana Pengelolaan TNGGP, karena Untuk melakukan review, pertimbangan lain seperti fluktuasi perkembangan TNGGP dapat digunakan.

Menurut Sdr. Dinda (WWF Indonesia) bahwa hasil METT TNGGP (yang sudah dianalisa) sebaiknya dilaporkan (submit) ke WWF sebagai bahan komparasi dengan Taman Nasional lain di dalam maupun di luar negeri.  Sdr. Dinda juga menyatakan bahwa TN. Gunung Gede Pangrango yang pertama kali melaksanakan penilaian dengan METT di Indonesia. Perlu bangga juga ya….!!!

Disarankan bahwa dalam melakukan penilaian dengan METT, setiap peserta harus memberikan jawaban sesuai dengan kondisi nyata di lapangan, harus jujur memberikan penilaian.  Sedangkan bila terdapat persepsi yang berbeda, maka persepsi tersebut digunakan sebagai pertimbangan, dengan bukti dokumen (referensi) yang ada.

Revisi untuk RPTN dapat menggunakan hasil METT sebagai starting point, bukan sebagai acuan utama sehingga revisi dapat menggunakan pertimbangan lain (mis: sejarah fluktuasi perkembangan TNGGP). Hasil METT dapat dikemas dalam bentuk laporan untuk perencanaan lebih lanjut.  Laporan lengkap dan analisa mendalam terhadap hasil METT ini saat in masih dalam proses.

[ teks & gambar © TNGGP | 052009 | sondang & red ]

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit sed.

Follow us on