Socials

Image Alt

Blog

Pelatihan Metode Pengamatan Katak (Kerjasama TNGGP dan Fahutan IPB)

Pemberian Materi

“Sampai saat ini baru teridentifikasi 21 jenis katak yang ada di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), masih berpotensi besar untuk ditemukan jenis katak lainnya!”, kata dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Ir. Mirza D Kusrini saat memberikan materi pelatihan Metode Pengamatan Katak di kantor Balai Besar TNGGP Cibodas.

Jenis katak yang ada di TNGGP sangat dimungkinkan masih banyak yang belum teridentifikasi, oleh karena itu penelitian dan inventarisasi katak masih sangat diperlukan untuk menggali lebih dalam lagi tentang jenis-jenis katak yang ada di TNGGP.

katak-seresah

Menyikapi hal tersebut, TNGGP bekerjasama dengan Fakultas Kehutanan IPB mengadakan pelatihan Metode Pengamatan Katak yang dilaksanakan tanggal 14 s.d 16 September 2009 di kantor Balai Besar TNGGP dan diikuti oleh 15 staf TNGGP. Diharapkan dari pelatihan ini, SDM dari staf TNGGP akan meningkat khususnya pengetahuan tentang katak dan dapat melakukan monitoring katak secara rutin pada lokasi yang akan dijadikan sebagai Plot Sampling Permanen (PSP).

Saat ini terdapat tidak kurang dari 6.260 jenis amfibi di dunia dimana Indonesia memiliki paling sedikit 380 jenis yang ditemukan di semua pulau-pulau di Indonesia mulai dari daratan rendah sampai dataran tinggi (IUCN 2008). Posisi geografis Indonesia yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia merupakan salah satu penyebab beragamnya jenis ini. Bila membicarakan amfibi, maka ada 3 (tiga) kelompok yang masuk ke dalam amfibi yaitu anura (amfibi yang bertungkai dan tidak berekor, contohnya katak dan kodok), sesilia (tidak memiliki tungkai) dan salamander (memiliki tungkai dan ekor). Hanya ada anura dan sesilia di Indonesia, dimana anura merupakan kelompok yang paling umum dijumpai (98%). Sesilia umumnya hidup di dalam tanah sehingga sangat sulity ditemukan (Kusrini, 2009).

Salah satu jenis katak endemik TNGGP yaitu katak merah (Leptophryne cruentata), dari beberapa penelitian dan inventarisasi yang pernah dilakukan jenis ini hanya ditemukan di air terjun Cibeureum, tetapi tidak menutup kemungkinan ditemukan di tempat lain di kawasan TNGGP.

Identifikasi katak

Selama pelatihan peserta tidak hanya belajar teori tetapi langsung praktek melakukan identifikasi katak dengan mencari katak di jalur Cibodas-Cibeureum dan Cibodas-Ciwalen pada malam hari. Pencarian katak dilakukan pada malam hari karena umumnya hewan ini keluar dan aktif  pada malam hari.Sementara itu pada siang hari peserta melakukan pencarian berudu air terjun Ciwalen.

Pengembalian katak ke habitatnya

Dalam pengamatan ini mengunakan metode jalur atau transek dengan jarak yang diambil yaitu 100 (seratus) meter. Jarak ke kanan dan kiri dari jalur antara 1 (satu) sampai dengan 2 (dua) meter sesuai jangkauan pandangan mata. sepanjang jalur tersebut mengambil dan mengidentifikasi katak yang ditemukan sesuai dengan buku panduan yang ada. kemudian dicatat dalam tally sheet sesuai kolom yang ada. Jenis-jenis yang ditemukan tersebut kemudian dilepaskan kembali ke alam sesuai habitatnya.

[ teks & gambar © TNGGP | 092009 | tangguh ]

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit sed.

Follow us on