Image Alt

Blog

Menjelajah Rumah Baru “Echi dan Septa”

Pengamatan Owa Jawa di Hutan Patiwel

Melepasliarkan kembali Owa Jawa ke habitat alaminya tidak semudah yang dibayangkan. Owa Jawa yang terbiasa hidup di dalam kandang sempit dan diberi makan sebagai hewan peliharaan tidak akan bisa bertahan hidup ketika dilepas ke alam liar walaupun itu merupakan habitat alaminya. Mereka tidak tahu buah dan daun apa saja yang bisa dimakan. Bagaimana cara bergerak yang lincah dan efektif dari cabang ke cabang (brakhiasi) untuk mencari makan. Bahkan ada Owa Jawa yang tidak bisa melakukan panggilan karena sejak kecil dipelihara manusia dan tidak pernah mendengar seperti apa Owa Jawa seharusnya bersuara.

Usaha dan proses untuk meliarkan kembali Owa Jawa membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Seperti yang terjadi pada Echi dan Septa, pasangan Owa Jawa ini membutuhkan waktu untuk berperilaku liar kembali dan siap dilepasliarkan ke alam kurang lebih dua tahun. Mereka belajar untuk menjadi Owa Jawa yang ”sebenarnya” di Javan Gibbon Center (JGC) atau Pusat Rehabilitasi Owa Jawa.

Mencatat hasil pengamatan

Sejak dilepasliarkan pada tanggal 16 Oktober 2009, pasangan Owa Jawa tersebut mulai menjelajah rumah barunya di hutan Patiwel. Berdasarkan  pengamatan yang dilakukan oleh petugas Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), JGC dan peneliti dari San Diego University dapat diketahui bahwa secara umum pasangan Owa Jawa ini memperlihatkan perilaku yang menunjukkan perilaku Owa Jawa liar. Artinya mereka sudah mampu untuk beradaptasi  terhadap rumah barunya tersebut, ditandai dengan memakan buah-buahan, daun-daunan dan serangga yang ada di hutan tanpa perlu bergantung pada pemberian pakan. Secara rutin, setiap pagi Echi melakukan morning call untuk menandakan keberadaannya di hutan Patiwel bersama pasangannya Septa.

Berdasarkan penelitian vegetasi di hutan Patiwel, terutama jenis vegetasi yang menjadi sumber pakan Owa , pernah dilakukan oleh mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI) tahun 2009.  Hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa ketersediaan pakan yang berasal dari vegetasi di hutan Patiwel mencukupi untuk mendukung kelangsungan hidup pasangan owa.

Pengamatan Owa Jawa

Beberapa jenis buah di hutan Patiwel yang terlihat dimakan pasangan Owa selama pengamatan yaitu darangdan, ramogiling, rasamala, areuy kekejoan, kiara bias, beunying, pasang batarua, kondang, pulus, salam, kanyere, afrika, bisoro, ki jahe, nangsi, jengkol, rotan, cau kole. Pasangan Owa Jawa ini juga memakan daun dan bagian tumbuhan yang masih muda diantaranya ki kacang, putat, pakis, rende, pucuk jirak, batang tepus muda, bunud kacapi, pucuk ceuri. Selain tumbuhan, pasangan Owa Jawa ini juga memakan serangga seperti telur semut, kupu-kupu, ulat.

Hingga minggu kedua setelah pelepasliaran atau awal Nopember 2009, Echi dan Septa telah melakukan penjelajahan seperempat bagian blok hutan Patiwel yaitu di bagian timur. Minggu ketiga dan keempat pasangan Owa Jawa ini sudah menjelajah ke sebagian hutan Patiwel yaitu di bagian timur ke arah tengah. Untuk selanjutnya diharapkan mereka dapat melakukan penjelajahan untuk seluruh hutan Patiwel yang mempunyai luas sekitar 5 Ha.

Selama pemantauan, selain pasangan Owa Jawa, ada jenis primata lain yang tinggal di hutan Patiwel yaitu 7 ekor lutung (Trachypitechus auratus) dan 4 ekor Surili (Presbytis comata). Jenis primata ini menetap tinggal di hutan Patiwel dan berbagi tempat dan pakan dengan Owa Jawa. Terdapat juga monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang terkadang datang ke hutan Patiwel untuk mencari pakan.

[teks & gambar © TNGGP | 122009 | tangguh-igor-komar]

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit sed.

Follow us on