Image Alt

Blog

Kendalikan Spesies Asing Perusak

JAKARTA, KOMPAS.com โ€” Hati-hati kalau memelihara hewan atau tumbuhan yang bukan asli Indonesia. Kalau sudah bosan, jangan dilepas atau dibuang sembarangan karena bisa saja tumbuhan atau hewan peliharaan kesayangan itu tergolong invasif dan berpotensi merusak sumber daya hayati Indonesia yang melimpah. Apalagi, sampai sekarang di Indonesia masih belum ada kebijakan yang jelas dalam penanganan makhluk hidup perusak.

Karena itu, para pemangku kepentingan saat ini sedang mendorong munculnya kebijakan baru penanggulangan spesies asing yang bersifat merusak atau Invasive Alien Species (IAS) dan itu mendesak dilakukan. Sebab, menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup sumber daya hayati di Indonesia. Selain itu, juga menjadi ancaman bagi ekosistem, pertanian, sosial-ekonomi, dan kesehatan manusia pada tingkat ekosistem, baik individu maupun genetik.

Hal itu terungkap dalam pertemuan para pemangku kepentingan terkait IAS di Jakarta. Hadir dalam pertemuan itu peneliti dari Seameo Biotrop Soekisman Tjitrosoedirdjo; konsultan teknis Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia/FAO Ravi Khetarpal; Program Officer FAO Ageng S Herianto; dosen Zoogeografi, Herpetologi, Sistematika Hewan, dan Biologi Molekuler Institut Pertanian Bogor Achmad Farajallah; serta utusan dari Badan Karantina Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Di Indonesia, ada lebih dari 100 makhluk hidup perusak, di antaranya eceng gondok, keong mas, belalang terbang di NTT, dan masih banyak lagi. Namun, identifikasi secara resmi belum dilakukan pemerintah. Menurut Ageng, perkembangan spesies asing yang bersifat perusak di Indonesia semakin signifikan. Hal ini dipengaruhi oleh perkembangan transportasi di era global dan perubahan iklim global. Padahal, IAS sangat potensial merusak kekayaan sumber daya hayati Indonesia.

“Kita sudah kehilangan berapa banyak saja plasma nutfah baik karena serangan IAS dari lokal maupun dampak dari negara lain. Setidaknya hingga saat ini tercatat lebih dari 100 jenis IAS yang mengancam,” katanya. Laporan lembaga penelitian di AS yang masih harus diverifikasi menyebutkan, setiap tahun Indonesia mengalami kerugian 1,4 triliun dollar AS akibat kehilangan sumber daya genetik yang potensial.

IAS merusak dengan cara menginvasi, selain juga menimbulkan dampak sosial ekonomi akibat penurunan produktivitas berbagai jenis tanaman yang bermanfaat. Achmad mengatakan, IAS atau spesies asing perusak merupakan makhluk hidup yang diintroduksi baik secara sengaja maupun tidak dari luar habitat alaminya. Bisa pada tingkat spesies, subspesies, varietas, dan bangsa, baik itu meliputi organisme utuh, bagian-bagian tubuh, gamet, benih, telor, maupun propagul.

Post a Comment

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit sed.

Follow us on