Socials

Image Alt

Blog

Lokasi Baru Kodok Merah

Kodo Merah/Katak Api (Leptophryne cruentata) merupakan spesies kodok endemik Jawa Barat. Spesies ini dideskripsi pertama kali pada tahun 1838 oleh Teschudi dari dua contoh koleksi spesimen yang kemungkinan didapat dari Cibodas. Kodok dengan ukuran 2,5 – 4 cm. Status keterancamannya dikategorikan kedalam Critically endangered oleh IUCN. Antara tahun 1990-an hingga 2003 tidak banyak informasi mengenai keberadaannya. Mulai tahun 2004, ada beberapa laporan dari beberapa lokasi di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Menurut Kusrini, MD (2007) kodok merah atau katak merah atau katak api hanya ditemukan di TNGGP, hal ini berdasarkan laporan-laporan ilmiah yang ada, sedangkan untuk TNGHS hanya bersifat informasi saja dan belum ada laporan yang bisa dipertanggungjawabkan sesuai kaidah keilmiahan. Nama Katak Api muncul ketika Leptophryne cruentata di kukuhkan menjadi satwa nasional pada 5 November 2011 oleh Kementerian Lingkungan Hidup, sedangkan nama katak merah maupun kodok merah umum digunakan oleh TNGGP.

Dalam kurun 10 tahun terakhir, keberadaan kodok merah banyak diinformasikan dari kawasan TNGGP. Lokasi favorit yang sangat terkenal dan mudah dijumpai di kawasan TNGGP adalah Curug Cibeureum-Cibodas dan Rawa Denok. Selanjutnya di tahun 2012 ditemukan di Curug Cibereum-Salabintana oleh petugas fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), TNGGP. Informasi keberadaan spesies ini juga dijumpai di kawasan TNGHS sekitar tahun 2002 di blok Cikeris.

Survey yang dilakukan oleh tim CWMBC/ICWRMIP (program konservasi biodiversitas berbasis DAS Citarum) yang bekerjasama dengan Direktorat Jenderal PHKA pada 4 September 2013, menemukan lokasi baru untuk kodok merah. Lokasi temuan tersebut adalah Curug Ceret, Sungai Citirilik yang termasuk wilayah kerja resort Tegallega. Ada 6 individu kodok merah yang ditemukan pada ketinggian 1.380 m dpl pada koordinat 60 LS, 1070BT. Tim juga menemukan 7 ekor berudu kodok merah di lokasi tersebut.

Perjumpaan pertama dengan kodok merah oleh Pak Ace, petugas PEH Pelaksana Lanjutan dari TNGGP pada Rabu, 4 September 2013 pukul 16.30 WIB. Individu lainnya ditemukan oleh Bayu Pramitama (Tim Survey CWMBC/ICWRMIP), Harun (Masyarakat Mitra Polhut TNGGP), dan Iwan Setiawan (Tenaga Ahli Herpetofauna CWMBC/ICWRMIP).

Tanggal 7 September 2013, anggota tim yang terdiri dari Harun (MMP-TNGGP), Entis, Edi dan EE melakukan survey lanjutan untuk mencari keberadaan Kodok Merah pada bagian hulu. Tim kecil tersebut menemukan 4 individu kodok merah pada pukul 17.00 WIB.

Selanjutnya tim yang terdiri dari Tim Survey Herpetofauna CWMBC/ICWRMIP, PEH dan MMP-TNGGP, melakukan survey yang lebih mendalam pada 10 September 2013 untuk mengkonfirmasi keberadaan Kodok Merah yang dijumpai pada tanggal 7 September 2013 dengan menyusuri aliran Sungai Citirilik ke arah hulu dengan koordinat 06049,340’ LS dan 107000,706’ BT dengan ketingian 1.458 m dpl. Hasilnya, tim menemukan Kodok Merah sebanyak 26 individu, dengan SVL (Snout-Veint Length) / Panjang monjong – kloaka antara 22,83 mm – 33,59 mm serta berat antara 1 gr – 4 gr. Selain itu, dijumpai juga berudu Kodok Merah dalam jumlah yang sangat besar. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi habitat di Sungai Citirilik pada bagian hulu sangat seimbang untuk mendukung kehidupan Kodok Merah. Kondisi habitat di Sungai Citirilik bagian hulu berupa bendungan air yang dibuat oleh masyarakat pada tahun 1984.

Kondisi habitat di lokasi penemuan kodok merah berupa aliran Sungai Citirilik yang telah mengering. Keringnya sungai ini dikarenakan aliran sungai ini dibendung oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat kampung Baru Kusumah, Desa Kebon Petey, Kecamatan Gegbrong, Kabupaten Cianjur. Karakteristik sungai yang berbatu khas daerah pegunungan dengan tutupan vegetasi di sempadan sungai berupa hutan primer yang didominasi rasamala, puspa, manggong, kibangong, hurusampe, kihuut, dan kileho. Vegetasi semak sekitar sungai berupa panggang cucuk, pisang kole, kecubung, pulus, harendong, dan talas-talasan.

Menurut pak Ace, “temuan ini di luar dugaan tim survey, karena kondisi habitatnya yang sangat tidak umum seperti lokasi-lokasi lainnya di kawasan TNGGP”. Lanjutnya pula, “lokasi ini sangat layak untuk dijadikan pusat penelitian dan pemantauan kodok merah di TNGGP”. Hal ini juga diiyakan oleh pak Aden Mahyar Burhanudin SH, kepala seksi wilayah II Gedeh, Bidang Wilayah I Cianjur, temuan ini menjadi pertimbangan dan agenda utama pihak kami untuk melanjutkan survey ini pada lokasi lainnya yang belum pernah dieksplorasi.

Selama kegiatan survey, dijumpai pula enam spesies endemik Jawa lainnya, yaitu Huia masonii, Nycticalus margaritifer, Rhacoporus margaritifer, Philautus pallidipes, Philautus vittiger dan Microhylla achatina dengan jumlah keseluruhan 25 spesies dari kelompok reptil dan amfibi.

(Red-Iwan Setiawan-Bayu Pramitama-1020130

Post a Comment

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit sed.

Follow us on