Socials

Image Alt

April 2014

Workshop pada koordinasi Forum Komunikasi dan Koordinasi Cagar Biosfer Cibodas

Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) merupakan areal inti Cagar Biosfer Cibodas (CBC). Cagar Biosfer menjadikan suatu kawasan yang konsep pengembangannya menggambarkan keselarasan hubungan antara pembangunan ekonomi, pengembangan sosial melalui pemberdayaan masyarakat, dan konservasi lingkungan, dimana keseimbangan hubungan manusia dan alam tetap terjaga. Dengan demikian Cagar Biosfer merupakan  kawasan yang sesuai untuk mengimplementasikan pendekatan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dengan memperhatikan tiga pilar yaitu : ekonomi, sosial, dan lingkungan secara selaras dan seimbang.

Adopsi pohon metode MIYAWAKI sebagai Destinasi Wisata Baru TNGGP Program adopsi pohon  adalah salah satu upaya rehabilitasi lahan hutan yang terdegradasi dengan melibatkan orang lokal (sebagai pelaksana penanaman dan pemeliharaan) dan  adopter sebagai penyandang dana, serta operator (sebagai pengelola kegiatan). Saat ini Balai Besar TNGGP, sedang gencar-gencarnya melaksakan upaya restorasi kawasan, sehubungan dengan adanya alih fungsi kawasan hutan  dari hutan produksi /lindung Perum Perhutani menjadi kawasan konservasi  di bawah pengelolaan Balai Besar TNGGP.  Sebagian kawasan alih fungsi mengalami degradasi akibat penggarapan oleh masyarakat (eks PHBM).

TNGGP berulang tahun di musim basah

Pada tanggal 06 Maret 2014 ini Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) berulang tahun yang ke-34.   Hari jadi TNGGP ini ditetapkan berdasarkan tanggal diumumkannya kawasan konservasi ini menjadi Taman Nasional yang pertama di Indonesia (bersama empat Taman Nasional lainnya), oleh Menteri Pertanian.  Sebelumnya kawasan konservasi di kompleks Gn. Gede Pangrango berstatus sebagai cagar alam tertua di Indonesia, ditetapkan berdasarkan Besluit van den Gouverneur General van Nederlandsch Indie pada tanggal 17 Mei 1889.

Setelah menjalani proses rehabilitasi selama enam tahun di Javan Gibbon Center (JGC), Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) , pada tanggal 27 Maret 2014 satu keluarga owa jawa yang terdiri dari sepasang induk jantan betina dan dua anaknya dapat dikembalikan ke habitat alaminya di kawasan Hutan Lindung Gunung Malabar, Bandung, Jawa Barat. Dalam sejarah konservasi, program pelepasliaran yang melibatkan satu unit keluarga owa jawa belum pernah dilakukan sebelumnya. Peristiwa unik ini tidak saja menggambarkan keberhasilan program rehabilitasi owa jawa, tetapi juga memberikan kesempatan emas bagi para peneliti dan penggiat konservasi untuk mengkaji proses adaptasi satwa langka ini di habitat aslinya setelah bertahun-tahun hidup dengan manusia. Program Rehabilitasi Owa Jawa di Bodogol TNGGP merupakan kerjasama multi pihak yang terdiri dari pengelola kawasan TNGGP, Universitas Indonesia, Yayasan Owa Jawa, dan Conservation International Indonesia.

Ajag (Cuon alpinus Pallas, 1811:34) Dhole Asiatic Wild Dog

Daerah penyebaran yang terbatas dan habitat yang cenderung menyempit, serta banyak dianggap sebagai musuh (hama) oleh masyarakat, maka kelestarian ajag sangat rawan. Populasinya di dunia diperkirakan tinggal 2.500 ekor saja, menyebar di dataran Asia mulai dari Bangladesh, Bhutan, Kamboja, China, India, Tajikiztan, Laos, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Nepal, Russia, Kazakhstan, Thailand, Vietnam dan Indonesia. Oleh karena itu organisasi konservasi alam internasional (IUCN) mengklasifikasikan jenis satwa ini sebagai satwa yang hampir punah (endangered) dan masuk appendik II dalam CITES, yang berarti pemanfaatannya sangat terbatas dengan sistem penjatahan (quota) dan pengawasan yang ketat. Pemerintah RI telah melindunginya sejak tahun 1931; Saat ini dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit sed.

Follow us on