Image Alt

Blog

DAN “GREEN WALL” PUN SUDAH MULAI TERBENTUK

Kolaborasi  BBTNGGP, CII Dan  Daikin Tertuang Dalam Program Restorasi Kawasan Hutan

Menyiasati Program  “Mission Impossible”

Dengan  rumit dan kompleks serta luasnya cakupan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, maka banyak para pakar memandang tugas unit-unit pelaksana teknis konservasi sebagai “Mission Impessible”.   Betapa tidak,  satu organisasi harus mengurusi banyak hal, mulai dari teknis kehutanan, pertanian, peternakan, perdagangan, hukum, pariwisata, sosial ekonomi dan budaya masyarakat  sampai politik.

Memang dengan tugas yang beranekamacam seperti tersebut di atas,  diperlukan SDM dan kopetensi dari berbagai bidang.  Namun nyatanya susah sekali untuk menghimpun SDM dari berbagai bidang keakhlian, terlebih lagi kopetensi.  Oleh karena itu, untuk menjadikan yang “impossible” itu menjadi “possible” maka  Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) mensiasatinya dengan melakukan kerjasama kolaborasi dengan para pihak yang berkaitan.

Sampai saat ini Balai Besar TNGGP telah menjalin hubungan kerjasama kolaborasi dengan berbagai lembaga, baik instansi pemerintah, perguruan tinggi, pengusaha,  lembaga swadaya masyarakat, maupun tokoh-tokoh masyarakat.  Kerjasama ini tidak hanya dijalin dengan lembaga dalam negeri saja namun juga dengan organisasi internasional.  Satu diantara kerjasama yang telah dijalin adalah kerjasama dengan PT Daikin dari Jepang  yang bertindak sebagai adopter dalam program adopsi pohon di Resort Nagrak, Conservation International Indonesia (CII)   sebagai operator, kelompok tani masyarakat lokal sebagai pelaksana penanaman dan pemeliharaan pohon.

Restorasi Kawasan via Adopsi Pohon

Dengan adanya alih fungsi kawasan hutan  dari hutan produksi /lindung Perum Perhutani menjadi kawasan konservasi  di bawah pengelolaan Balai Besar TNGGP, maka timbulah lahan terdegradasi di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang diakibatkan  penggarapan oleh masyarakat (eks PHBM).  Oleh karena itu pada saat ini Balai Besar TNGGP, sedang gencar-gencarnya melaksakan upaya restorasi kawasan dan pengeluaran para penggarap dari kawasan hutan.

Upaya restorasi lahan hutan yang terdegradasi di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dilakukan melalui berbagai cara antara lain melalui kegiatan GERHAN,  RHL mandiri oleh mitra kerja, dan program adopsi pohon.  Dalam program adopsi pohon dilakukan tiga kegiatan utama, yaitu restorasi (penanaman dan pemeliharan pohon), perbaikan perekonomian masyarakat, proses penyuluhan (penyadaran dan peningkatan kepedulian) juga dilakukan penelitian.

Dalam program adopsi pohon terlibat paling tidak empat pihak, yaitu fasilitator/regulator, adopter, operator, dan villagers.   Fasilitator/regulator menyediakan lahan dan aturan-aturan untuk lancarnya pelaksanaan program;    Adopter sebagai penyandang dana,  operator sebagai pengelola kegiatan dan masyarakat local (villagers) sebagai pelaksana penanaman dan pemeliharaan pohon.

Perkumpulan  GEDE PAHALA merupakan operator utama program adopsi pohon di Balai Besar TNGGP dan di lapangan dibantu oleh beberapa organisasi seperti  OISCA Training Centre Sukabumi, Green Radio FM,  dan Conservation International Indonesia (CII).

“Green Wall” pun Mulai Terlihat

Dalam program Daikin’s “GREEN WALL”  yang dimulai sejak tahun 2008 sampai saat ini telah ditanam lebih dari 120.000 batang pepohonan  pada lahan seluas 300 ha.  Dengan hasil yang cukup baik, persen  tumbuhan 100 %, karena bila ada yang mati segera disulam.  Lahan yang semula terlihat hampir telanjang, sudah terlihat hijau tertutup oleh pepohonan muda.

Jenis pohon yang ditanam adalah jenis asli Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, antara lain rasamala (Altingia excelsa), puspa (Schima wallichii), manglid (Magnolia blumei), suren (Toona chinenis), kisireum (Syzigium rostrattum), saninten (Castanopsis argantea), salam (Eugenia clavimirtus), dan janitri (Elaeocarpus pierrei ).  Selain jenisnya asli penghuni kawasan hutan Gunung Gede Pangrango, jenis-jenis ini pun termasuk pohon pioneer dan memang mereka sempat mendominasi daerah ini sebelum terjadi degradasi.

Selain berhasil merehabilitasi lahan,  telah berhasil pula diturunkan para penggarap lahan hutan sebanyak 500 KK, dan sisanya sebanyak 300 KK sudah siap turun gunung tanpa proses hukum.  Untuk menurunkan dan membekali  mereka yang turun gunung, maka dikembangkan pula kegiatan pemberdayaan masyarakat yang akan terus dikembangkan sebagai antisipasi agar masyarakat tidak kembali menggarap lahan hutan.

Antisipasi Pasca Turun Gunung

Berbagai bantuan dilakukan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat  (yang merupakan bagian dari program adopsi pohon), diantaranya pemberian bantuan tanaman multi guna (MPTS) seperti aren (Arenga pinata),  nangka (Artocarpus heterophyllus), jambu (Syzigium guajava), rambutan (Nephelium lappaceum), pala (Myristica fragrans),  jengkol (Pithecollobium lobatum) dan petai (Parkia speciosa).  Diberikan pula bantuan bibit dan bimbingan budidaya ikan kakap, domba, dan sayuran.

Mengingat belum semua masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan terlayani listrik dari PLN, maka dibuatlah PLTA berupa minihidro di kampung Tenggek Desa Cihanjawar.  Dengan adanya program adopsi pohon ini, jadilah kampung Tenggek mempunyai penerangan meskipun masih sangat terbatas.

Tak ketinggalan masyarakat kampung Panyusuhan Desa Cihanjawar, dengan bantuan dana adopsi pohon mereka mendapat kemudahan untuk mendapatkan air bersih dalam bentuk intalasi air besih.   Meskipun terletak dipinggiran hutan, kampung Panyusuhan tidak terlewati saluran air (baik sungai ataupun selaokan),  oleh karena itu  mereka sangat memerlukan sarana air bersih.

Untuk membekali generasi penerus tentang pentingnya upaya konservasi sumber daya alam , dilakukan pula pendidikan konservasi lingkungan hidup bagi anak-anak sekolah.  Murid-murid SD dan SLTP sekitar kawasan hutan Resort PTN Nagrak mendapat kesempatan penambah ilmu pengetahuan tentang konservasi sumber daya alam dan lingkungan hidup.

Rencana Kedepan

Dari hasil evaluasi bersama yang dilaksanakan pada bulan Juli  2014 di kantor Bidang PTN Wilayah II Sukabumi, restorasi kawasan melalui program adposi pohon Daikin-CII ini sudah berhasil dengan baik.  Dan kedepan perlu ada sedikit pembenahan dalam bidang administrasi.

Untuk program selanjutnya akan dititikberatkan pada upaya untuk mengantisipasi terulangnya penggarapan lahan hutan pasca penurunan penggarap,  disamping tentunya melanjutkan upaya restorasi.  Secara garis besar rencana kerja ke depan adalah sbb. :

Melanjutkan pemantauan dan penyulaman tanaman yang tertanam dalam luasan 300 hektar;  Penguatan kapasitas kelembagaan masyarakat ;  Peningkatan penyadaran masyarakat melalui komunikasi dan publikasi; Peningkatan dukungan program restorasi melalui keterlibatan multi pihak (terutama dalam penanganan pasca penurunan perambah);  Penempatan Sign board ;  Pemantauan dan evaluasi program

Untuk itu akan digalang kerjasama kolaborasi  yang lebih intensif al. dengan satuan kerja perangkat daerah (SKPD)  seperti  BKPMD, Dinas Petanian, Dinas Peternakan, Dinas Koperasi.  Kawasan RPTN Nagrak dan Pasir Hantap termasuk  pada program “Kawasan Cepat Tumbuh Terpadu” yang telah dicanangkan oleh Pemda Kabupaten Sukabumi,  oleh karena itu antara kegiatan reboisasi dan penghijauan harus sinergis untuk mendukung program tersebut.

Namun untuk meningkatkan keberhasilan kerjasama kolaborasi ini diperlukan komitmen dan frame work yang jelas.  Mudah-mudahan. (Teks : Agus M dan Juarsa;  Lay Out : Dadang I;  Foto : Anton A).

Post a Comment

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit sed.

Follow us on