Socials

Image Alt

Blog

KREATIVITAS KADER KONSERVASI BALAI BESAR TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO

TARGETKU SELURUH KAMPUNG CIBILIK !

Kelompok Masyarakat Peduli Alam
Pembentukan kader konservasi di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) mulai dirintis, sejak tahun 1986, dengan pembinaan dan pelatihan anak-anak sekolah sebagai “pengenal konservasi “.  Untuk orang dewasa dilatih dan dibentuk “kader konservasi”.  Sampai saat ini sudah banyak anggota kader konservasi yang berhasil mengembangkan diri dan membentuk kelompok, seperti kelompok Volunteer Eagle di Bodogol, Evergreen di Gedeh, Paguyuban Lokat Mala di Sarongge, KTH Berkah Mandiri di Gegerbentang Cibodas, dan Kelompok Tani “Kompak”.

(Kelompok Masyarakat Peduli Alam Konservasi) di Cibilik Bodogol.

Seorang anggota kader konservasi bentukan tahun 1989, bernama Entah dari kampung Cibilik, telah berhasil membentuk dan mengembangkan kelompok tani “Kompak”.  Hampir semua anggota “Kompak” adalah mantan penggarap lahan hutan (eks PHBM)  yang berhasil turun berkat perjuangan keras yang panjang (2007 – 2010), dari sang kader konservasi.    Pada tahun 2010, sebanyak 60 kepala keluarga (KK) secara sukarela meninggalkan lahan garapannya dalam hutan (yang telah beralih status dari hutan produksi menjadi kawasan konservasi).

Perjuangan “phase dua” pun dimulai Pak Entah. Saat kelompok tani ini mendapatkan “reward”, berupa bantuan bibit kambing sebanyak 10 ekor. Sang ketua harus mengatur pembagian kambing (yang hanya berjumlah 10 ekor kambing bentina dan satu pejantan) kepada 60 anggota kelompoknya.  Strategi Pak Entah adalah dengan membuat sub kelompok pada setiap 10 ekor kambing guliran, dengan menunjuk satu ketua sub kelompok.  Menurut sang desainernya, strategi ini dilakukan untuk memudahkan pemantauan perkembangan usahaternak dan kewajiban gulir.

Berkat gigihnya perjuangan para personal kelompok tani “Kompak”, phase  dua ini pun  sudah mulai membuahkan hasil.  Dari tahun 2010 sampai saat ini jumlah kambing sudah berkembang menjadi 125 ekor. Kambing yang berhasil digulirkan sebanyak 30 ekor dan pada saat ini telah siap digulirkan sebanyak 10 ekor lagi.  Jadi terget perjuangan “phase dua” ini tinggal 10 KK lagi.  Namun target kelompok tani Kompak ini tidak hanya anggota kelompoknya saja yang mendapat bantuan guliran domba tapi pada perjuangan “phase tiga”  mereka bertekad untuk menggulirkan kambing pada setiap KK dikampung Cibilik Desa Naggerang Kecamatan Cicurug.

Perjuangan (tanpa phase) yang terus diusahakan kelompok tani Kompak adalah penyadaran masyarakat agar berprilaku selaras dengan alam, antara lain melalui penyuluhan dengan mengedepankan bukti bahwa tanpa merusak hutan pun masyarakat bisa hidup dengan lebih baik.  Anggota kelompok yang sudah terlihat kemajuannya dalam usaha ternaknya atau usaha lain dijadikan contoh nyata, bahwa dengan tekad dan usaha yang kuat masyarakat bisa hidup selaras dengan alam (kawasan konservasi).  Pada saat ini, perjuangan Pak Entah di kelompok tani Kompak dibantu oleh tiga ketua sub kelompok, yaitu Bapak Tahyudin, Bapak E. Misbah dan Bapak Sumpena.  Serta seluruh anggota kelompoknya.

Kambing Mandul Ditukar Dua

Menurut Pak Entah, bantuan bibit kambing tersebut menimbulkan semangat (stimulan) untuk berusaha dengan lebih baik tanpa masuk hutan.  Beberapa warga telah berhasil menabung (hasil penjualan kambing) dan mengembangkan usaha lain seperti usaha ayam pedaging yang waktu produksinya lebih cepat. Ada pula yang berhasil memperbaiki rumah, membayar uang muka pembelian motor untuk ojeg dan lain-lain. Hubungan silaturakhim antar wargapun bisa berjalan dengan lebih baik.

Namun disamping keberhasilan seperti tersebut di atas, kelompok tani Kompak mengalami berbagai permasalahan dalam pengembangan usahaternaknya.  Ada anggota kelompok yang kebagian kambing bajir (mandul), ternak kena penyakit, warga tidak punya kandang dan lain-lain.  Upaya yang telah dilakukan antara lain saling menukar kambing bajir dengan kambing lain yang subur diantara anggota kelompok, kadang-kadang satu ekor kambing bajir bisa ditukar dengan dua ekor kambing, karena kambing bajir biasanya lebih gede sehingga bila dijual bisa lebih mahal.

Perlakuan pada kambing yang terserang penyakit masih dilakukan secara tradisional, karena belum banyak pembinaan tentang cara penanggulangan penyakit secara modern.  Penyakit yang relatif sering berjangkit adalah sakit perut dan snot.  Untuk sakit perut, biasanya diobati dengan memberikan gula merah dan garam pada air minum ternak, sedangkan untuk snot diobati dengan ekstak daun surawung (kemangi).

Untuk pengembangan lebih lanjut, kelompok tani Kompak berharap bisa mendapatkan pembinaan yang lebih intensif dari para penyuluh kehutanan, pertanian dan peternakan.  Untuk bisa menfaatkan limbah ternak menjadi pupuk cair dan bokasih perlu ada paltihan.  Agar pemanfaatan dan pengolahan limbah bisa lebih efisien, diharapkan ada bantuan untuk pembuatan kandang kelompok

Untuk itu, siapa bisa bantu ?  Silahkan hubungi Kelompok Tani KOMPAK.  Kontak person  : Entah (ketua kelompok), nomor HP .  0857 7958 1472    atau  Tangguh Triprajawan, S.Hut. (Kepala RPTN Bodogol sebagai pembina harian) nomor HP.0857 7648 4632.  (Teks :   Agus Muyana;  Foto :  Randi)

Post a Comment

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit sed.

Follow us on