Socials

Image Alt

Blog

HAMPIR 1 TON SAMPAH BERHASIL DIKELUARKAN DARI GUNUNG GEDE PANGRANGO

Cibodas, 17 Agustus 2017. Bertepatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke – 72, Balai Besar TNGGP berpartisipasi mendukung kegiatan “Sapu Jagat Gunung Serentak” Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan melaksanakan Kegiatan “Operasi Bersih Gunung Tahun 2017 Kerja Bersama 72 Indonesia Merdeka” dengan mengusung tema “Kami Siap Kerja Bersama Membersihkan Gunung Gede Pangrango”. Kegiatan ini dilaksanakan dari tanggal 15 sampai 17 Agustus 2017.

Tujuan dari kegiatan ini, yaitu membersihkan sampah pada jalur pendakian; meningkatkan partisipasi kesadaran pendaki yang berwawasan lingkungan; serta meningkatkan kecintaan pada bangsa dan negara melalui efektivitas masyarakat peduli kepada lingkungan.

Kegiatan ini didukung oleh mitra eksternal, seperti TNI dan kepolisian dari 3 kabupaten (Cianjur, Sukabumi, dan Bogor); mitra internal antara lain, Masyarakat Mitra Polhut (MMP), Masyarakat Peduli Api (MPA); Volunteer (Montana, GPO, Panthera, Evergreen, Tepala, PAL, Eagle, Vanaprastha, PKBM Umi Kulsum, Cantigi, dan relawan dari SMKN 1 Sukabumi); masyarakat (Karang Taruna Desa Perbawati dan Desa Karawang Kecamatan Sukabumi, serta masyarakat lainnya di sekitar kawasan TNGGP). Jumlah personil sekitar 200 orang. Hari Selasa, 15 Agustus 2017 tim Advance sudah mulai naik dari pintu masuk Cibodas (20 orang), pintu masuk Gunung Putri (20 orang), dan pintu masuk Selabintana (10 orang).

Hari kedua, Rabu, 16 Agustus 2017 Acara Ceremonial Pelepasan Tim Operasi Bersih oleh Plt. Kepala Balai TNGGP di pintu masuk Cibodas. Pada sambutannya, beliau memberikan apresiasi dan dukungan atas terselenggaranya kegiatan aksi bersih sampah ini karena sampah merupakan salah satu permasalahan utama yang dihadapi dalam pengelolaan lingkungan hidup dan salah satunya di TNGGP karena adanya aktivitas pendakian. Selain itu beliau menyampaikan, “Agar peserta kegiatan operasi bersih dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan menjaga kondisi kesehatan tubuh”. Peserta aksi bersih gunung diikuti dari pintu Gunung Putri dan Selabintana.

Aksi bersih dilaksanakan sepanjang jalur pendakian mulai dari pintu masuk (Cibodas, Gunung Putri dan Selabintana) sampai puncak gunung. Kelompok Opsih dibagi per pintu masuk pendakian, masing-masing jalur dibagi per blok/ lokasi operasi.  Operasi sampah dimulai dari puncak menyisir jalur ke arah bawah, sampah yang dikumpul dimasukan trashbag dan dibawa dengan menggunakan karung.

Hari ketiga, Kamis 17 Agustus 2017 sampah berhasil diturunkan dari ketiga pintu, yaitu:

  1. Jalur Cibodas: Puncak Pangrango, Kandang Badak, Kandang Batu, Air Panas, Panca Weleuh, dan Rawa Denok, sampah yang dikeluarkan sebanyak 346 kg;
  2. Jalur Gunung Putri: Puncak Gede, Alun-alun Barat, Pos Alun-alun Timur, Puncak Gumuruh/ terowongan (jalur ziarah), semak-semak Alun-alun Surya Kencana, Pos Simpang Maleber, Pos Buntut Lutung, Pos Legok Leunca, Pos Inf. Lama, dan tanah merah, sampah yang dikeluarkan sebanyak 492 kg; dan
  3. Jalur Selabintana: Gegeber, Cileutik, dan Alun-alun Barat (arah Sukabumi), sampah yang dikeluarkan sebanyak 74 kg.

Total sampah yang berhasil dikeluarkan dari Gunung Gede Pangrango seberat 912 Kg, paling banyak berasal dari pintu Gunung Putri, diikuti dari pintu Cibodas dan pintu Selabintana. Sampah ini selanjutnya akan diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kabupaten Cianjur dan TPA Kabupaten Sukabumi.

Bagaimana halnya apabila sampah anorganik ini tidak dikeluarkan dari Gunung Gede Pangrango? Sampah membutuhkan waktu penguraian yang cukup lama. Dari beberapa literatur dapat diketahui bahwa waktu penguraian sampah anorganik bisa mencapai 10 tahun bahkan lebih. Sebagai contoh plastik dan kaleng soft drink membutuhkan waktu sampai 100 tahun sedangkan sterofoam membutuhkan waktu lebih dari 500 tahun untuk terurai sempurna. Sampah juga merupakan sumber polusi air, tanah, dan udara yang akan mempengaruhi ekosistem dan kelestarian SDA.

Volume sampah akan terus meningkat apabila para pendaki belum sadar terhadap lingkungan. “Gunung Bukan Tempat Sampah” jadi bagaimana seharusnya pengelolaan pendakian yang terbebas dari sampah? Ini yang menjadi “PR” bersama. Balai Besar TNGGP dalam pengelolaan pendakian sudah melakukan langkah-langkah mengatasi masalah sampah ini melalui penyuluhan oleh petugas pada pintu masuk pendakian, pemeriksaan barang bawaan pada saat masuk dan pintu ke luar pendakian, pemasangan papan peringatan sampah, operasi bersih gunung yang rutin dilakukan setidaknya dua kali dalam setahun yaitu pada akhir Maret (setelah penutupan pendakian Bulan Januari sampai Maret) dan pada saat penutupan pendakian Bulan Agustus dalam rangka pemulihan ekosistem.

Sumber: Balai Besar TNGGP

Post a Comment

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit sed.

Follow us on