Image Alt

Blog

Nilai METT TNGGP kembali naik

Jumat (12/11/21) dilakukan Penilaian Efektivitas Kawasan Konservasi melalui Management Effectiveness Tracking Tool (METT) di TNGGP secara virtual. Kegiatan dimulai pada pukul 09.00 WIB, yang awali dengan sambutan dari Plt. Kepala Balai Besar TNGGP, Wasja, S.H. Selain itu, penilaian tahun ini menghadirkan fasilitator dari Direktorat Pengelolaan Kawasan Konservasi, Dian Risdianto, S.P., M.Si. dan juga mengundang sejumlah pihak terkait, meliputi Pemerintah Daerah, Lembaga Pendidikan, Pemegang IUPSWA/IUPJWA, Volunteer serta mitra lainnya dengan total undangan yang hadir sebanyak 69.

Kegiatan penilaian dilaksanakan dalam rangka menilai sejauh mana pengelola kawasan telah secara efektif dikelola sejalan dengan visi, misi, dan tujuan pengelolaan yang telah ditetapkan pada saat kawasan ini ditunjuk. Melaksanakan penilaian terhadap efektivitas pengelolaan, merupakan amanah yang tercantum dalam Convention of Biological Diversity (CBD) on Protected Areas, 188 negara sepakat membangun sistem penilaian dan pelaporan efektivitas pengelolaan kawasan lindung.

Berdasarkan SK Dirjen KSDAE Nomor: SK. 357/KSDAE-SET/2015 tanggal 31 Desember 2015 tentang Penetapan Nilai Awal Efektivitas Pengelolaan Kawasan Suaka Alam, Kawasan Pelestarian Alam, dan Taman Buru, Balai Besar TNGGP merupakan kawasan konservasi dengan nilai METT tertinggi kategori taman nasional. Hasil penilaian tahun 2021 mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2017 dari 80,81% menjadi 83,84%. Nilai naik menandakan adanya peningkatan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi dari tahun sebelumnya.

Hasil penilaian efektivitas pengelolaan kawasan tahun 2021 sebesar 83,84% adalah sebagai berikut:
A. Ancaman terhadap Kawasan Konservasi
Dari 12 pertanyaan tentang ancaman terjadap kawasan konservasi, diperoleh hasil sebagai berikut:

  1. Tidak ada jenis ancaman tinggi.
  2. Jenis ancaman sedang: kegiatan rekreasi dan wisata; โ€efek tepiโ€ lain terhadap nilai-nilai kawasan konservasi; tanaman invasif non-native/ asing (rerumputan); sampah padat; tanah longsor; serta hilangnya budidaya, pengetahuan lokal dan/atau praktik pengelolaan.
  3. Jenis ancaman rendah: infrastruktur wisata dan rekreasi; budidaya non kayu tahunan atau sepanjang tahun; jalan dan rel kereta; jalur layanan dan jasa; perburuan, pembunuhan, dan pengumpulan satwa darat; pengumpulan tanaman darat atau produk tanaman (bukan kayu); pembalakan dan pemanenan kayu; pemancingan, pembunuhan dan pemanenan sumberdaya air; vandalisme, kegiatan merusak atau ancaman terhadap pegawai atau pengunjung; bendungan, modifikasi hidrologis, dan pengelolaan/pemanfaatan air; satwa invasif non-native/ asing; saluran pembuatan atau air limbah dari fasilitas kawasan konservasi; pembuangan dari pertanian dan kehutanan; gunung berapi; erosi dan pengendapan garam/ tanah; suhu ekstrim; serta badai dan banjir.
  4. Beberapa ancaman lainnya tidak masuk dalam 3 (tiga) kategori diatas atau N/A.

B. Indikator Pengelolaan Efektif
Dari hasil penilaian, diperoleh total skor penilaian efektifitas pengelolaan kawasan TNGGP adalah 83 dari maksimum skor 99 atau 83,84 %. Nilai ini menunjukkan bahwa TNGGP relatif dikelola dengan efektif (relative well-managed). Diperoleh bahwa pengelolaan di TNGGP telah efektif dengan rincian perolehan nilai per kriteria: context 100 %; planning 90 %; input 72 %; process 81 %; output 83 %; dan outcome 100 %.

Teks : Sisca Widiya A
Foto : Yuki Januardi Perdana

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit sed.

Follow us on