Socials

Image Alt

Blog

HUTAN LESTARI MASYARAKAT SEJAHTERA

Pada dasarnya permasalahan konservasi hutan tidak semata-mata karena kurangnya kesadaran dan tingkat ekonomi masyarakat yang berada pada level menengah ke bawah. Benturan berbagai kepentingan menyebabkan permasalahan terhadap kawasan konservasi tak kunjung teratasi. Namun bukan berarti keberadaan masyarakat sekitar hutan tidak memberikan dampak bagi kawasan konservasi. Masyarakat dapat memberikan dampak negatif, namun jika dikelola dengan baik dapat memberikan dampak yang positif dan menjadi benteng terluar pertahanan kawasan konservasi.
Sejalan dengan paradigma baru pembangunan kehutanan yang mengarah kepada orientasi menempatkan masyarakat sebagai subyek atau pelaku utama, maka pengelolaan hutan harus mampu menjadikan masyarakat sebagai mitra dengan posisi yang sejajar dengan struktur pengelolaan kawasan konservasi itu sendiri. Salah satu bentuk implementasi dari konsep tersebut ialah dengan pemberdayaan masyarakat.

Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) telah melaksanakan berbagai pola pemberdayaan masyarakat dengan mengambil tagline “leuweung hejo masyarakat ngejo” yang artinya hutan lestari masyarakat sejahtera. Pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu strategi yang paling ampuh dalam menjaga kelestarian kawasan hutan. Puncak keberhasilan pemberdayaan masyarakat apabila masyarakat sekitar hutan sejahtera dan tidak bergantung pada hutan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, serta kelestarian hutan yang terjaga berkat peran serta masyarakat secara partisipatif. Menurut Sarjono (1998) kesejahteraan masyarakat desa bukan hanya diukur secara fisik dan ekonomi melainkan juga dari solidaritas warganya yang tinggi sehingga mampu mengembangkan kerjasama spontan untuk kepentingan bersama.
Beberapa konsep pemberdayaan masyarakat menitik beratkan pada upaya peningkakan kemampuan dan potensi yang dimiliki masyarakat sehingga dengan mandiri dapat mewujudkan jati diri, harkat dan martabat masyarakat secara maksimal untuk bertahan dan mengembangkan diri. Sehingga pada dasarnya sebelum memberikan stimulasi peningkatan sumber mata pencaharian, terlebih dahulu perlu diberikan pembekalan peningkatan kapasitas kepada masyarakat yang pada akhirnya mereka dapat mengembangkan diri secara mandiri.

Pada tanggal 13 – 14 Desember 2021 bertempat di kantor Bidang PTN Wilayah III Bogor, Balai Besar TNGGP bekerjasama dengan ITTO (International Timber Trade Organization) menyelenggarakan kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat. Kegiatan ini diikuti oleh dua Kelompok Tani Hutan (KTH) di Bidang PTN Wilayah III Bogor yaitu KTH Jagaraksa dan KTH Tapak Jagat. Kegiatan ini bertema “Pelatihan Budidaya Lebah Madu” yang bertujuan untuk meningkatan keterampilan anggoota KTH dengan memanfaatkan potensi di sekitar lingkungan masyarakat.
Kawasan TNGGP dan sekitarnya memiliki potensi lebah madu jenis Trigoona yang cukup baik. Selain mudah untuk mendapatkan koloni juga didukung ketersediaan pakan yang melimpah baik di dalam kawasan maupun sekitarnya. Dalam menjalankan budidaya lebah madu ini tidak terlalu menuntut banyak perhatian dan tenaga, sehingga peternak dapat melakukan aktivitas lain di sela-sela kegiatan budidaya lebah. Sehingga prospek budidaya lebah madu Trigoona diharapkan dapat memberikan hasil yang baik dan cepat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Kegiatan pelatihan budidaya lebah madu ini dibuka oleh Plt. Kepala Balai Besar TNGGP Bapak Wasja, S.H. Dalam sambutannya, Plt. KBB menyampaikan bahwa kegiatan pelatihan ini tidak hanya akan menambah pengetahuan dan keterampilan anggota dua KTH namun juga akan memberikan dampak positif bagi kelestarian kawasan TNGGP. Sehingga pada masa yang akan datang tercipta rasa memiliki pada setiap mitra TNGGP yang secara sukarela akan berpartisipasi dalam upaya konservasi kawasan.

Narasumber pada kegiatan ini adalah pendiri peternakan budidaya lebah madu “PAK LEBAH” yang telah memulai usahanya sejak tahun 2006. Eureka Indra Zatnika seorang pakar lebah madu yang telah menghasilkan berbagai jenis madu dari berbagai jenis lebah. Pengalamannya selama lebih dari 15 tahun membuat sosok ini menjadi salah satu pakar lebah yang diperhitungkan di Indonesia, bahkan produk madu dari peternakannya sudah menjangkau seluruh penjuru tanah air. Materi yang disampaikan pada kegiatan pelatihan kali ini antara lain: (1) Teknik Budidaya Lebah Madu dan Pengendalian Hama Penyakit; (2) Pemanenan dan Packing/Pengemasan produk madu dan turunannya; (3) Praktek Teknik Budidaya Lebah Madu.

Kegiatan pelatihan berjalan dengan komprehensif, karena peserta mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan dari mulai mengenal jenis lebah Trigoona, penangananan hama dan penyakit hingga teknik pemanenan dan pengemasan. Pada kegiatan kali ini narasumber sebagai pengusaha lebah madu juga menjanjikan bersedia menjadi pembeli lebah yang dihasilkan dari peternakan masyarakat, dengan ketentuan madu dan hasil turunannya sesuai dengan standar kualitas “Madu Pak Lebah”. Sehingga dalam kesempatan pelatihan kali ini masyarakat tidak hanya mendapatkan pengetahuan dan keterampilan namun juga telah bertemu dengan pasar yang siap menerima hasil budidaya.

Peserta yang sebenarnya sudah akrab dengan lebah Trigoona atau di masyarakat lebih dikenal sebagai Lebah Teuweul, Abas dari KTH Tapak Jagat mengungkapkan bahwa mereka sangat beruntung bisa mengikuti pelatihan budidaya ini. Hal ini dikarenakan mereka selama hanya mengenal dan mengetahui keberadaan jenis lebah Teuweul namun tidak paham bagaimana cara membudidayakan. Teknik yang sederhana dan mudah serta tidak menuntut banyak waktu dan tenaga, menggugah semangat masyarakat untuk memulai usaha budidaya ini melalui kelompok KTH masing-masing. Untuk mendorong semangat peserta pelatihan dan memberikan modal awal, pihak ITTO melalui Balai Besar TNGGP juga menyerahkan stimulasi usaha dengan bantuan 25 stup koloni lebah madu Trigoona kepada masing-masing KTH peserta pelatihan.

Stimulasi ini bersifat penggugah awal yang diharapkan masing-masing KTH dapat mengembangkan sehingga akan menjadi salah satu sumber mata pencaharian anggotanya.Sebagai penutup Bapak Hiras Sidabutar menyampaikan pesan bahwa menjaga komunikasi dan kerukunan di dalam tubuh KTH sangat penting. Dengan adanya komunikasi yang lancar, kejujuran antara anggota KTH dan informasi yang tersampaikan dengan baik dapat membantu menjaga kerukunan antar anggota KTH. Tanpa adanya kerukunan maka usaha apapun yang dilakukan oleh KTH tidak dapat bertahan dan tidak akan memberikan manfaat bagi anggotanya.

semoga pelaksanaan kegiatan pelatihan budidaya lebah madu ini akan memberikan masukan positif bagi KTH Jargaraksa dan KTH Tapak Jagat. Dimana selanjutnya dapat menjadi salah satu upaya pemberdayaan masyarakat yang berhasil guna untuk mewujudkan “Hutan Hejo Masyarakat Ngejo”.

Teks: Woro Hindrayani (PEH)
Foto: Dadang Suryana (Kepala Bidang) dan Iyan Sopian (PEH)

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit sed.

Follow us on