Image Alt

Blog

Pelatihan Pengelolaan Sampah Organik di Desa Penyangga TNGGP

Jumat, 16 September 2022 bertempat di rumah Ketua Rt.03 RW.02 Kampung Tunggilis Pojok Desa Ciputri telah dilaksanakan kegiatan Pelatihan Pengelolaan Sampah Organik Menggunakan Larva Tentara Hitam (Black Soldier Fly/ BSF). Kegiatan tersebut merupakan pelaksanaan Hibah Program Kemitraan Masyarakat Sistem Informasi Manajemen Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM Simlitabmas) Universitas Muhammadiyah Prof DR.Hamka (UHAMKA) 2022.

Kegiatan pelatihan dibuka dengan resmi oleh Kepala Desa Ciputri, Nia Novi Hertini, S.AP. beliau berharap program hibah ini dapat menjadi solusi terkait pengelolaan sampah di Desa Ciputri dan dapat menjadi alternatif mata pencaharian lain bagi masyarakat setempat.

Mengingat Desa Ciputri merupakan salah satu desa penyangga TN Gede Pangrango, turut hadir Kepala Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Sapto Aji Prabowo, S.Hut., M.Si. beserta para jajarannya, yaitu Kepala Seksi PTNW 2 Gedeh, Penyuluh Kehutanan, Polisi Kehutanan, petugas resort, dan turut hadir juga Penyuluh Kehutanan BKSDA Aceh (Munira) dapat berkesempatan mengikuti pelatihan ini. Dalam kesempatan tersebut, Kepala Balai Besar TNGGP juga menyampaikan materi terkait “Implemetasi Kegiatan Perubahan Iklim dalam Menyelesaikan Permasalahan Sampah di Desa Penyangga Kawasan TNGGP”. Beliau menyampaikan bahwa sampah yang tidak terkelola dengan baik dapat menjadi salah satu penyebab perubahan iklim. Perubahan iklim sendiri efek langsungnya dapat terasa oleh masyarakat, seperti kenaikan suhu, naiknya permukaan air laut yang terus mengikis luas daratan, dan tentunya kondisi cuaca yang tidak teratur yang mengakibatkan petani sulit memprediksi musim hujan dan musim kemarau. Sementara, Desa Ciputri sebagai desa yang kebanyakan masyarakatnya bermatapencaharian sebagai petani sayuran akan sangat tergantung pada musim hujan dan kemarau.

Materi kedua diberikan oleh Ibu Nur Asiah, SKM, M.Kes, dosen kesehatan masyarakat UHAMKA mengenai “Perilaku Masyarakat Tidak Pro Lingkungan dan Dampak Sampah Organik bagi Kesehatan”. Selanjutnya, materi terakhir disampaikan oleh Ibu Dra. Meitiyani, M.Si dosen Pendidikan Biologi UHAMKA terkait “Aksi Nyata Penanganan Sampah Organik yang Ramah Lingkungan”, yaitu dengan budidaya maggot. Masyarakat juga diajak berkunjung ke rumah maggot untuk melakukan praktik pengelolaan sampah organik menggunakan maggot. Di sana masyarakat mendapatkan penjelasan tentang siklus hidup maggot, cara memberikan sampah organik pada maggot, dan cara mengembangbiakan maggot.

Maggot adalah larva dari jenis lalat besar berwarna hitam (Black Soldier Fly/ BSF) yang mampu menguraikan sampah organik. Sampah organik yang merupakan limbah dari sisa sayuran dan makanan adalah sumber makanan bagi maggot, dengan perbandingan 1 kg maggot mampu menghabiskan 10 kg sampah organik (1:10). Sampah organik ini jika dibiarkan atau tercampur dengan sampah non organik dapat mengahsilkan gas metana yang berbahaya bagi lingkungan dan manusia. Sehingga, budidaya maggot dapat menjadi solusi dalam penanganan limbah organik.

Selain memiliki nilai ramah lingkungan, maggot juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Maggot dapat dimanfaatkan sebagai campuran pakan ikan dan unggas dengan perbandingan tertentu. Harga di pasaran untuk jenis maggot hidup antara Rp6.000,00 – Rp15.000,00 per-kg dan untuk maggot kering harganya lebih tinggi, yaitu Rp50.000,00 per-kg. Melihat kondisi ini, maggot dapat menjadi solusi pengelolaan sampah organik yang ramah lingkungan sekaligus sumber penghasilan bagi masyarakat.

Semoga program pelaksanaan Hibah PKM Simlitabnas UHAMKA 2022 ini berjalan dengan sukses dan mampu memberdayakan masyarakat sekitar kawasan.

Teks: Munira – Penyuluh Kehutanan BKSDA Aceh

Dokumentasi: Anne Santina & Mellin Meilina

Post a Comment

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit sed.

Follow us on