Image Alt

Artikel

KTH Berkah Mandiri Sejak tahun 1986, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) telah merintis pembentukan kader konservasi, dimulai dengan pelatihan anak-anak sekolah sebagai “pengenal konservasi “ dilanjutkan dengan pelatihan dan pembentukan “kader konservasi”. Sampai saat ini Balai Besar TNGGP telah melatih dan membentuk kader konservasi sumber daya alam tidak kurang dari 1.000 orang, yang terdiri dari para pelajar, pemuda karang taruna, petani dan lain-lain. Sudah banyak para kader ini yang sudah berhasil

Adopsi pohon metode MIYAWAKI sebagai Destinasi Wisata Baru TNGGP Program adopsi pohon  adalah salah satu upaya rehabilitasi lahan hutan yang terdegradasi dengan melibatkan orang lokal (sebagai pelaksana penanaman dan pemeliharaan) dan  adopter sebagai penyandang dana, serta operator (sebagai pengelola kegiatan). Saat ini Balai Besar TNGGP, sedang gencar-gencarnya melaksakan upaya restorasi kawasan, sehubungan dengan adanya alih fungsi kawasan hutan  dari hutan produksi /lindung Perum Perhutani menjadi kawasan konservasi  di bawah pengelolaan Balai Besar TNGGP.  Sebagian kawasan alih fungsi mengalami degradasi akibat penggarapan oleh masyarakat (eks PHBM).

Ajag (Cuon alpinus Pallas, 1811:34) Dhole Asiatic Wild Dog

Daerah penyebaran yang terbatas dan habitat yang cenderung menyempit, serta banyak dianggap sebagai musuh (hama) oleh masyarakat, maka kelestarian ajag sangat rawan. Populasinya di dunia diperkirakan tinggal 2.500 ekor saja, menyebar di dataran Asia mulai dari Bangladesh, Bhutan, Kamboja, China, India, Tajikiztan, Laos, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Nepal, Russia, Kazakhstan, Thailand, Vietnam dan Indonesia. Oleh karena itu organisasi konservasi alam internasional (IUCN) mengklasifikasikan jenis satwa ini sebagai satwa yang hampir punah (endangered) dan masuk appendik II dalam CITES, yang berarti pemanfaatannya sangat terbatas dengan sistem penjatahan (quota) dan pengawasan yang ketat. Pemerintah RI telah melindunginya sejak tahun 1931; Saat ini dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Situated in the province of West Java in the south of Jakarta, Cibodas Biosphere Reserve is an example of an ecosystem in the humid tropics undergoing strong human pressure.

The Gunung Gede-Pangrango National Park constitutes the core area of the biosphere reserve. It includes two twinned volcanoes and mountainous rain forests with many Javan endemic species.

The buffer zone comprises for a large part production forest, tea plantations and horticulture fields. Rice irrigation fields and human settlements mostly cover the transition area.

Declaration Date: 1977 Surface Area: : 21,975 ha Administrative Division: Cianjur, Sukabumi and Bogor West Java

Oleh: Aden Mahyar, SH Sejarah pembentukan Pam Swakarsa Sejarah PAM Swakarsa di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) khususnya di Seksi Konservasi Wilayah III Cianjur desa Kebon Peteuy tidak langsung dibentuk dari sumber anggaran Negara yaitu dari anggaran dana reboisasi tahun anggaran 2003 melainkan melalui proses panjang yang dirintis pihak pengelola. Pembentukan Pamswakarsa pada tahun itu hanyalah merupakan pengakuan atau pengukuhan  dari pihak pengelola terhadap kelompok masyarakat yang peduli akan kegiatan pelestarian kawasan hutan TNGGP.

FEWA
Usia bumi yang terbilang renta dan lelah yang selama ini menjadi satu-satunya planet di sistem tata surya yang merupakan tempat tinggal makhluk hidup termasuk kita didalamnya sebagai manusia berbagai peristiwa besar telah dialaminya, mulai dari pecahnya induk benua yang disebut Pangaea, masa es, banjir besar dan saat ini dalam anomaly iklim dunia sedang mengalami pemanasan global (global warming).

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit sed.

Follow us on