Image Alt

gede Tag

Sekitar 20 peserta yang terdiri dari siswa-siswi SMU 1 Cigombong, SMA at- Taqwa Cicurug, SMP 2 Benda-Cicurug dan perwakilan ibu PKK kampung Bodogol sangat antusias menerima materi pembuatan kompos takakura dari Kenichi Yoshida (JICA) bekerjasama dengan Pengelola Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol (PPKAB). Hal tersebut terbukti saat teori dan praktek pembuatan kompos pemateri sering mendapat interupsi pertanyaan dari peserta.

[caption id="attachment_2711" align="alignleft" width="154" caption=" "]Mandiri menanam[/caption]

Sabtu 26 November 2011, sekitar 40 orang dari Bank Mandiri melakukan penanaman 800 pohon atau sekitar 2 ha di Blok Pasir Ipis, Resort Cimande, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).Penanaman tersebut dilakukan melalui Program Adopsi Pohon yaitu program penanaman pohon dengan pemeliharaan selama 3 tahun termasuk didalamnya terdapat kegiatan pemberdayaan dan bantuan modal usaha terhadap masyarakat sekitar kawasan TNGGP.

pameran-ppkab

“Kakak, itu gambar apa kok mirip monyet  ya?”ujar salah satu siswi Kelas 4 SD  Pakauman 02 Desa Wangun Jaya. Siswa tersebut bertanya kepada salah satu tim PPKAB yang sedang menerangkan tentang flora dan fauna yang terdapat di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Desa Wangun Jaya, Kecamatan Ciambar merupakan salah satu desa penyangga di TNGGP tepatnya masuk ke dalam kawasan Resort Bodogol, Seksi PTN Wilayah V Bodogol.

Pengamatan Owa Jawa di Hutan Patiwel

Melepasliarkan kembali Owa Jawa ke habitat alaminya tidak semudah yang dibayangkan. Owa Jawa yang terbiasa hidup di dalam kandang sempit dan diberi makan sebagai hewan peliharaan tidak akan bisa bertahan hidup ketika dilepas ke alam liar walaupun itu merupakan habitat alaminya. Mereka tidak tahu buah dan daun apa saja yang bisa dimakan. Bagaimana cara bergerak yang lincah dan efektif dari cabang ke cabang (brakhiasi) untuk mencari makan. Bahkan ada Owa Jawa yang tidak bisa melakukan panggilan karena sejak kecil dipelihara manusia dan tidak pernah mendengar seperti apa Owa Jawa seharusnya bersuara.

[caption id="attachment_1109" align="alignleft" width="120" caption=" "]

Fakta menunjukkan bahwa keberadaan Taman Nasional Gunung Gede  Pangrango (TNGGP) tidak dapat dipisahkan dari masyarakat yang berada sekitarnya. Mereka adalah bagian atau unsur dari ekosistem TNGGP yang saling tergantung. Mereka akan menjaga keberadaan TNGGP apabila mereka bisa memahami tentang peranan TNGGP bagi kelangsungan kehidupannya. Mereka juga akan melestarikan TNGGP apabila mereka bisa mendapatkan manfaat, baik langsung maupun  tidak langsung dari sumber daya alam dan lingkungan TNGGP.  Tetapi sebaliknya mereka tidak akan peduli TNGGP apabila mereka tidak memahami tentang peranan TNGGP bagi kehidupan umat manusia termasuk mereka.  Bahkan mereka akan merusak apabila mereka tidak mendapat manfaat dari keberadaan TNGGP.

Sharp,  sebagai salah satu raksasa produsen alat-alat elektronik di dunia telah turut serta berpartisipasi dalam rangka restorasi kawasan alih fungsi di Blok Sarongge Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dalam hal ini melalui PT. Sharp Electronic Indonesia menanam 500 batang pohon jenis-jenis endemik pada lahan seluas 1,25 ha. Penanaman dilakukan pada hari Rabu tanggal 22 April 2009, dengan  jenis yang ditanam yaitu 250 batang pohon puspa (Schima walichii) dan 250 batang pohon manglid (Manglieta glauca).

[caption id="attachment_1173" align="alignright" width="119" caption=" "]Proses inhouse training[/caption]

Pengendali Ekosistem Hutan atau lebih dikenal dengan PEH merupakan salah satu jabatan fungsional yang ada di Departemen Kehutanan Republik Indonesia. Hari Rabu, 15 April 2009 PEH di lingkup Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) mengadakan in house training internet dan website.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit sed.

Follow us on