Image Alt

hutan sahabat green Tag

Pohon pohon yang ditanam tahun lalu mulai tumbuh. Suren mencatat rekor setinggi 2 meter. Kegiatan ekonomi alternatif dilakukan lewat pemeliharaan lebah, dan ternak domba. Tak lama lagi ada radio komunitas di Sarongge. Hutan Sahabat Green memang belum tampak seperti hutan. Tegakkan pohon ada di sana-sini. Tetapi umumnya lahan masih terbuka, hanya tertutup sayur-mayur yang ditanam petani anggota Gapoktan (Gabungan Petani Hutan). Di sinilah, pendengar Green Radio - individu atau perusahaan - berniat menghutankan kembali bekas areal Perhutani. Areal yang sekarang masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

hutan sahabat green-1Mesti ekstra hati-hati menuruni lereng-lereng curam itu. Dengan dua tangan mendekap beberapa polybag bibit pohon puspa, tidak sedikit yang terperosok dan melorot tak terkendali. Medan terjal dan rawan longsor itu benar-benar menantang.

Patok-patok bambu yang ditempeli label A, B, C, D sudah disiapkan para petani. Jarak antar patok sekitar 5 meter. Kami mesti menjangkau patok-patok itu untuk menanam bibit-bibit pohon yang dilabeli sesuai nama pengadopsinya. Tidak mudah mencapainya, karena lereng yang dulunya ditumbuhi pepohonan besar itu sudah berubah menjadi lahan bertanam sayur-mayur. Kering, sangat miring dan mudah longsor.

hutan sahabat green 1Awalnya 5 hektar. Akan terus dikembangkan sejalan dengan minat Sahabat Green mengadopsi pohon. Sosialisasi dengan petani segera dilakukan, untuk persiapan penanaman pertama 8 Juli 2008.

Mentari baru beranjak naik, ketika (Rabu 11 Juni) tim Green Radio tiba di Desa Ciputri. Panas belum menyengat, tetapi kami mesti bergegas untuk melintasi ujung kampung itu. Tiba di pertanian bunga mawar, yang menjadi tempat terakhir parkir mobil operasional Taman Nasional, kami turun berjalan kaki. Melintasi kebun kebun sayur milik petani, kami tiba di titik awal. Tempat yang akan ditandai sebagai pintu masuk Hutan Sahabat Green

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit sed.

Follow us on