Image Alt

Owa Jawa Tag

Pada hari Sabtu tanggal 6 April 2013 rombongan dari Dit PPH Kemenhut terdiri dari seorang anggota Interpol bernama Alison Bernard Keene dan tiga orang anggota Interpol dari Indonesia yang sedang menangani masalah Peredaran TSL dan Illegal Logging, melakukan kunjungan ke PPKAB Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP). Dengan suasana hujan gerimis, rombongan yang ditemani oleh Kasatgas BBTNGGP dan Kepala Seksi PTN Wilayah II serta beberapa petugas, berjalan-jalan di komplek PPKAB Bodogol dan Kawasan Hutan disekitarnya.

pameran-ppkab

“Kakak, itu gambar apa kok mirip monyet  ya?”ujar salah satu siswi Kelas 4 SD  Pakauman 02 Desa Wangun Jaya. Siswa tersebut bertanya kepada salah satu tim PPKAB yang sedang menerangkan tentang flora dan fauna yang terdapat di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Desa Wangun Jaya, Kecamatan Ciambar merupakan salah satu desa penyangga di TNGGP tepatnya masuk ke dalam kawasan Resort Bodogol, Seksi PTN Wilayah V Bodogol.

Pengamatan Owa Jawa di Hutan Patiwel

Melepasliarkan kembali Owa Jawa ke habitat alaminya tidak semudah yang dibayangkan. Owa Jawa yang terbiasa hidup di dalam kandang sempit dan diberi makan sebagai hewan peliharaan tidak akan bisa bertahan hidup ketika dilepas ke alam liar walaupun itu merupakan habitat alaminya. Mereka tidak tahu buah dan daun apa saja yang bisa dimakan. Bagaimana cara bergerak yang lincah dan efektif dari cabang ke cabang (brakhiasi) untuk mencari makan. Bahkan ada Owa Jawa yang tidak bisa melakukan panggilan karena sejak kecil dipelihara manusia dan tidak pernah mendengar seperti apa Owa Jawa seharusnya bersuara.

Siaran Pers Nomor : S.507/PIK-1/2009 Menuju Kebebasan Owa Jawa Free at last, a Javan gibbon pair is released to their forest home Owa Jawa (Hylobates moloch) merupakan satu-satunya jenis primata tidak berekor dari keluarga owa yang ditemukan di Pulau Jawa.  Kerabat owa lainnya hidup di Sumatera  (2 jenis), Mentawai (1 jenis), dan Kalimantan (2 jenis).  Saat ini Owa Jawa terancam punah dan menurut badan dunia IUCN (International Union for Conservation of Nature), satwa ini berstatus terancam punah (endangered species). Hutan hujan tropis yang menjadi tempat hidupnya menghilang dengan cepat di bawah tekanan pembangunan dan pertumbuhan populasi manusia. Selain itu tingkat perburuan satwa ini juga tinggi karena owa dikenal sebagai satwa peliharaan kegemaran masyarakat sehingga hal tersebut turut meningkatkan resiko kepunahannya. 

Owa jawa (Hylobates moloch), yang diduga tinggal sekitar 200 ekor di Pulau Jawa, akhir-akhir ini sering muncul di sekitar Taman Safari Indonesia (TSI) di Cisarua, Jawa Barat. Kemunculan owa jawa ini diduga karena tertarik dengan suara-suara owa jawa yang ada di dalam TSI. Foto diambil Selasa (13/5) pukul 08.00 WIB dari jarak sekitar 300 meter dengan lensa super tele.
Kamis, 15 Oktober 2009 | 19:33 WIB
BOGOR, KOMPAS.com - Echi dan Septa, sepasang owa jawa, akan dilepasliarkan di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jumat (16/10). Sebelum pelepasliaran ke habitat aslinya itu, keduanya telah menjalani penyesuaian lingkungan di kandang habituasinya di Blok Hutan Tiwel, Resort Bodogol BPTN Wilayah III Bogor TNGGP.

Bodogol-Bogor, 7 Maret 2009. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango [TNGGP], seluas 21.975 hektar merupakan salah satu taman nasional yang tertua di Indonesia, yang memiliki peran penting sebagai sistem penyangga kehidupan. Sebagai kawasan konservasi dengan misi untuk perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan sumber daya alam secara lestari. Keutuhan dan kelestarian ekosistem TNGGP telah berjasa menyelamatkan Owa Jawa [Hylobates moloch] dari kepunahan, benteng bagi kota Jakarta dari  mencegah banjir bandang saat musim penghujan.

Selasa, 11 November 2008 | 00:48 WIB Bogor, Kompas - Kepunahan primata endemik Pulau Jawa di habitat alaminya, owa jawa (Hylobates moloch), dapat diperlambat. Di antaranya, melalui keberpihakan pemerintah mempertahankan hutan tersisa di Jawa. Demikian salah satu keyakinan pada lokakarya Penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Owa Jawa 2008-2018 yang diadakan Asosiasi Peminat dan Ahli Primata Indonesia (APAPI), berlangsung di Bogor, Senin-Selasa (10-11 September). ”Kami berharap ada komitmen para pihak untuk menjaga hutan tersisa,” kata Ketua APAPI Noviar Andayani di Bogor, Senin (10/11).

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit sed.

Follow us on