Taman Nasional Gunung Gede Pangrango [National Park]

The Oldest Tropical Mountain Rain Forest of Java

Depan » Artikel


Arsip untuk ‘Artikel’

SAAR, anak owa yang mencari jati diri

10.11.08Hits |ArtikelCetak

SAAR memiliki rambut abu-abu keperakan yang cukup lebat. Hal tersebut dapat menggambarkan kondisi kesehatannya yang cukup baik karena gizi yang cukup ketika dititipkan untuk dirawat oleh pengasuh satwa di International Animal Rescue [IAR] Indonesia di Ciapus, lereng Gunung Salak. Sangat berbeda ketika SAAR, anak owa jawa ini ditemukan oleh petugas Taman Nasional Gunung Halimun Salak [TNGHS] dipelihara oleh penduduk sekitar bulan Februari 2008 yang lalu.

Selengkapnya…

Pendakian Pertama ke Puncak Gede

10.10.08Hits |ArtikelCetak

Bulan Agustus 2008, Junior expert dari JICA (Japan International Cooperation Agency), Yoshikazu Tatemoto mulai bekerja di TNGGP. Dia bekerja dalam bidang konservasi alam dan pendidikan lingkungan bersama dengan staf TNGGP. Kesempatan bagus, baru sekitar seminggu bekerja mendapat kesempatan naik gunung Gede bersama beberapa staf TNGGP untuk pertama kali. Berikut adalah kesan-kesan pendakian dari Yoshi.
Selengkapnya…

Interpretasi: Upaya Membangkitkan Partisipasi Masyarakat dalam Konservasi suatu Taman Nasional

11.7.08Hits |ArtikelCetak

Taman Nasional
TNGHS Pemerintah mendefinisikan Taman Nasional sebagai suatu kawasan pelestarian alam yang memiliki ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi dan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pendidikan, penelitian, pengembangan budidaya, rekreasi dan pariwisata. Pada saat ini masyarakat Indonesia secara luas semakin memahami pentingnya kehadiran Taman Nasional tersebut, meskipun terkadang pemahaman itu masih relatif cukup beragam. Disadari maupun tidak, keberadaan suatu taman nasional sangatlah penting untuk menjaga fungsinya [fungsi hutan] yang berkesinambungan sebagai pendukung sistem penyangga kehidupan.

Selengkapnya…

“Manusia Ekologi” vs “Manusia Ekonomi”?

29.4.08Hits |ArtikelCetak

Pemahaman yang kurang tepat

poster Hari BumiPada suatu kesempatan diskusi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi terkenal di Bogor, tersebutlah dalam kata sambutan dari seorang ahli setempat yang mengatakan bahwa “Kita manusia yang tinggal di kota adalah manusia ekonomi, berbagai hal dinilai dengan uang”. Disebutkan pula bahwa “Jauh dari kota, di suatu tempat pinggiran hutan biasanya manusia di sana adalah manusia ekologi, mereka sejak dulu sudah memanfaatkan sumberdaya alam yang ada di sekitarnya secara langsung, Sehingga hal tersebut adalah normal, dan tidak perlu dilarang. Misalnya masyarakat lokal yang masih mengkonsumsi satwa liar tertentu, seperti Yaki. Itu adalah alami, tidak perlu dilarang. Biarkanlah mereka berkembang sebagai manusia ekologi”.

Apakah pernyataan tersebut tepat dan arif?
Selengkapnya…